Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 07 Mar 2019 12:00 WIB

Liputan Khusus

Tak Cuma Mini Market, Kini Warteg Juga Bisa Franchise

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Puti Aini Yasmin Foto: Puti Aini Yasmin
Jakarta - Pagi itu menjelang siang, sebuah warteg di Cilandak, Jakarta Selatan terlihat sedang melayani beberapa pembeli. Kehadiran warung bernuansa hijau kekuningan tersebut sudah tak asing di Jakarta.

Warung tersebut bernama 'Warteg Kharisma Bahari'. Siapa yang belum pernah melihat warteg ini? Hampir 200 warteg Kharisma sudah tersebar di Jabodetabek.

Siapa yang mengira, bisnis yang awalnya dipandang sebelah mata bisa menjadi franchise atau waralaba? Hal itu sesuai dengan misinya, yakni 'Mewartegkan Jabodetabek'.

Ya, inisiasi tersebut digagas oleh Sayudi. Pria asal Tegal, Jawa Tengah ini membuka warteg pertamanya di Cilandak, Jakarta Selatan pada tahun 1996.

Seiring berjalannya waktu, bisnis tersebut semakin berkembang pesat. Keberhasilan itu lah yang membuat saudara dan tetangganya di kampung ingin turut mencoba.

Akhirnya ia memutuskan untuk membantu saudara serta tetangganya membangun warteg di Jakarta sesuai dengan konsep yang dimiliki.

"Awalnya kan sendiri, terus lingkungan, teman, saudara tertarik lihat. Nah, otomatis percaya sama saya. Mereka punya modal sekian kalau percaya saya carikan (lokasi), ya ada berapa sisanya cicil sama saya," kata dia saat berbincang dengan detikFinance, pekan lalu.

Warteg jadi FranchiseWarteg jadi Franchise Foto: Puti Aini Yasmin




Warteg Kharisma memang memiliki konsep yang berbeda dari warteg biasanya. Warteg tersebut dibuat menarik dan bersih sehingga membuat pelanggan yang datang merasa nyaman.

Meja dan dinding warteg tersebut dibuat menggunakan keramik berwarna krem. Lantainya pun serupa sehingga enak untuk dipandang.

Tak lupa, ruangan tersebut juga dikelilingi cermin kaca yang membuat ruangan seakan-akan lebih luas dibanding aslinya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan usaha franchisenya tersebut memiliki konsep beli putus. Sehingga setelah Sayudi membangunkan warteg untuk sang calon pembeli maka semua operasional akan diserahkan kepada pembeli.

Selain itu, ia juga mengaku akan turut membantu modal bila dibutuhkan. Ia mencontohkan, bila modal awal sebesar Rp 150 juta dan calon pembeli hanya memiliki Rp 70 juta maka ia akan memberikan pinjaman Rp 80 juta.

Cara mencicil pinjamannya pun berbeda, yakni dengan semampunya atau tak ada batasan. Sebab, Sayudi tak ingin pembeli wartegnya justru fokus membayar utang dan tidak memerhatikan kualitas makanannya.

"Kalau nyicil di saya itu nggak flat kaya bank, kalau ada sedikit ya kasih sedikit, kalau ada banyak ya kasih banyak. Tenornya pun juga tergantung kebutuhan. Kita nggak mau mereka fokus di angsuran karena bisa mengurangi kualitas makanannya," ungkap dia.

Sayudi, Pemilik Warteg Kharisma BahariSayudi, Pemilik Warteg Kharisma Bahari Foto: Puti Aini Yasmin




Pria berusia 45 tahun ini juga mengungkapkan bahwa tak gampang membangun usaha tersebut. Pasalnya ia harus merelakan waktu bersama keluarganya.

Walaupun begitu, ia merasa yakin bahwa nantinya semua hasil kerja kerasnya akan membuahkan hasil di masa mendatang.

"Saat ini saja sibuk ngurus (franchise warteg), sama keluarga susah. Sekarang sibuk saya, tidur saja dibatasi soalnya atur ketemuan sama orang lah. Tapi saya nikmati untuk bekal di hari tua kalau fisik sudah lemah," tutup dia. (eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com