Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan pada dasarnya menjamurnya warteg bukan lah sebuah fenomenal yang baru. Sebab, hal tersebut sama halnya dengan munculnya rumah makan padang.
"Ya sebenarnya nggak juga ya, biasa karena sebenarnya rumah makan padang sama saja," kata dia saat berbincang dengan detikFinance pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, setiap orang memiliki selera makan yang dekat dengan masakan rumah.
"Jadi jaringan warteg bahari ini banyak, model rumah makan padang. Bedanya warteg ini level agak naik kelas, menarget pasar yang lebih tinggi dikit. Orang kantor kan suka makan warteg jadi harga terjangkau mereka ngejar omzet," paparnya.
Sementara itu, ia juga menyoroti fenomena ini bukan lah bagian dari kemudahan berbisnis di Indonesia. Pada dasarnya, usaha mikro,kecil dan menengah tergolong mudah dibuka di Indonesia.
"Bukan, ini kelas warung di Indonesia dunia memang mudah, kalau mau buka bisa di mana saja, sangat mudah. Jadi fenomena biasa," ungkapnya.
Sekadar informasi, Warteg Kharisma sendiri merupakan usaha franchise dari pria bernama Sayudi. Usaha ini bisa dibeli oleh investor dengan modal mulai Rp 110 juta hingga Rp 150 juta.











































