Pemerintah Tak Punya Duit, Opsi Likuidasi Merpati Ditolak

Pemerintah Tak Punya Duit, Opsi Likuidasi Merpati Ditolak

- detikFinance
Rabu, 21 Sep 2005 16:35 WIB
Jakarta - Opsi likuidasi yang diutarakan Merpati tampaknya sulit terwujud. Pemerintah menegaskan tidak punya duit sebesar Rp 2 triliun. Dana sebesar itu dibutuhkan untuk melikuidasi perusahaan penerbangan pelat merah tersebut."Untuk likuidiasi harus ada pembayaran Rp 2 triliun. Sedangkan pemerintah tidak punya uang sebanyak itu. Dana pensiun Merpati tidak disediakan sepenuhnya oleh Merpati. Jadi harus ditalangi pemerintah," kata Menneg BUMN Sugiharto di sela-sela raker dengan Komisi V DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (21/9/2005).Merpati akhirnya mengutarakan opsi likuidasi yang diperkirakan membutuhkan dana hingga Rp 2 triliun. Opsi itu dipilih karena BUMN ini terus merugi Rp 21 miliar tiap bulannya.Untuk itu, pemerintah berjanji akan mencarikan investor strategis. Sambil menunggu datangnya investor strategis, pemerintah akan memberikan dana Rp 75 miliar melalui penyertaan modal pemerintah (PMP). Jumlah tersebut merupakan bagian dari Rp 450 miliar yang disetujui DPR sebelumnya.Menurut Sugiharto, dalam 3 hingga 5 tahun ini tampaknya Merpati tidak mampu berdiri sendiri, sehingga perlu dicari investor strategis."Dengan dana Rp 75 miliar melalui PMP paling tidak kita akan lakukan rehabilitasi untuk melayani penerbangan perintis khususnya Indonesia Timur dan pesawat yang digunakan harus lolos tes Depertemen Perhubungan," papar Sugiharto.Sementara Dirut Merpati Hotasi Nababan mengatakan, meski akan dikucurkan dana Rp 75 miliar, namun pihaknya tetap menagih Rp 450 miliar yang sudah disetujui DPR sebelumnya. Dana itu rencananya untu merestrukturisasi Merpati secepatnya. Sebagian lagi akan digunakan untuk perampingan SDM dan Rp 115 miliar untuk resettle pihak ketiga. "Rp 75 miliar bukan untuk turn around, tapi untuk mengaktifkan 11 pesawat Merpati yang grounded," kata Hotasi.Pesawat yang tengah 'ditidurkan' tersebut terdiri dari 4 pesawat Twin Otter tujuan Papua dan 3 jenis Casa ke Sulawesi, dua Fokker 27 tujuan Nusa Tenggara, 1 Fokker 100 untuk kota kecil seperti Ternate dan Manokwari, dan 1 Boeing seri 737 200. Dengan beroperasinya kembali pesawat-pesawat tersebut, Merpati berharap bisa mengangkut 45 ribu orang per bulan dengan net margin Rp 4,65 miliar per bulan. Merpati berharap dana Rp 75 miliar yang dijanjikan pemerintah bisa mengucur 2-3 minggu ke depan. Dengan demikian pada awal November atau saat Lebaran semua armada Merpati bisa digunakan setelah dinyatakan layak oleh Depbub. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads