Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 12 Mar 2019 12:44 WIB

Kepala BKPM Janji Investasi Asing Tumbuh Double Digit

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra/detikFinance Foto: Ardan Adhi Chandra/detikFinance
Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong optimistis pertumbuhan penanaman modal asing (PMA) tahun 2019 bisa double digit.

Di depan Presiden Jokowi, Lembong bercerita pada 2018 terjadi penurunan arus modal asing (PMA) sebesar 8,8% dan itu menjadi yang pertama kali sejak empat tahun lalu.

"Padahal biasanya double digit. Kondisi ini konsisten di seluruh dunia. Data PBB, tunjukkan FDI -20 persen. Tahun lalu adalah tahun yang berat untuk investasi," kata Lembong dalam acara Rakornas Investasi di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3/2019).

Lembong menyebutkan, ada tiga faktor yang membuat investor asing enggan menanamkan modalnya di Indonesia pada tahun 2018. Yaitu, perang dagang, normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang menaikkan suku bunga, dan kebijakan tax amnesty yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump.

"Syukurnya tahun 2018 akhir kami mulai melihat recovery dan awal 2019 recovery makin kencang. Tahun ini kami percaya diri PMA kembali double digit," ujar dia.



Lembong mengungkapkan, ada beberapa fokus pemerintah untuk meningkatkan kembali pertumbuhan PMA di tahun 2019. Pertama, dengan memanfaatkan online single submission (OSS).

"Ini adalah aspek pengawalan investasi. Investasi harus dikawal dari ujung ke ujung. Setiap langkah harus direspons," jelas dia.

Kedua, pemerintah melalui otoritas investasi nasional akan memanfaatkan sistem Koordinasi Pengawalan Investasi dengan Memanfaatkan Aplikasi (KOPI MANTAP).

Dengan adanya aplikasi KOPI MANTAP, koordinasi antar stakeholder, yakni kementerian/lembaga (K/L) maupun pemerintah daerah (pemda) akan lebih efektif. Itu akan memudahkan dan mempercepat proses perizinan investasi.

Misalnya terkait izin lokasi, bila pertimbangan teknis pertanahan yang sebelumnya diajukan oleh pelaku usaha ke instansi terkait sudah keluar, itu akan disampaikan ke dalam sistem OSS untuk diproses lebih lanjut.

"Saya jamin kemudahan penggunaannya tidak kalah dengan gampangnya pakai Whatsapp," kata Lembong.

"Semangat kami saat ini mendorong kesiapan setinggi tingginya untuk mengaktualisasi recovery," tambah dia.

(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com