Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 12 Mar 2019 15:21 WIB

Benarkah Brexit Bisa Bikin Inggris Krisis Pasokan Pangan?

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Kiagoos Auliansyah/Infografis Foto: Kiagoos Auliansyah/Infografis
Jakarta - Rencana Inggris untuk keluar dari Uni Eropa tidak berjalan mulus. Negosiasi British Exit (Brexit) masih terganjal di parlemen lantaran adanya pihak yang masih belum sepakat.

Beberapa media luar memberitakan tentang konsekuensi buruk yang muncul jika rencana Brexit masih mandeg. Salah satunya tentang krisis pasokan makanan.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik mengatakan, memang saat ini ada perdebatan di parlemen terkait Brexit. Namun keputusan akan diambil dalam pekan ini.

"Minggu ini ada beberapa kegiatan di parlementer di London untuk memutuskan bentuk Brexit. Ini perdebatan yang masih panas dan kita akan lihat hasilnya. Mungkin sulit buat saya untuk spekulasi dari Jakarta tentang apa yang terjadi perdebatan di parlemen itu," ujarnya di Kedubes Inggris, Jakarta, Selasa (12/3/2019).


Malik menilai, memang akan ada dampak ketidakpastian bagi ekonomi Inggris atas hal itu. Namun dia percaya itu hanya berdampak jangka pendek.

"Untuk jangka pendek pasti ada ketidakpastian. Pasti ada beberapa dampak dari hal itu untuk perekonomian," ujarnya.

Namun secara jangka panjang, Malik percaya ekonomi Inggris masuk akan baik-baik saja. Sebab Brexit tak membuat hubungan antara individu di Inggris dengan negara Uni Eropa juga putus.

Dia menegaskan bahwa hubungan antara perusahaan Inggris dengan perusahaan di Uni Eropa bisa terus berjalan. Hal itu pun menepis tentang kemungkinan sulitnya mendapatkan pasokan bagi perusahaan di Inggris.


Investor pasti berpendapat jangka panjang. Kalau jangka panjang di Inggris saya kira masih sangat baik karena SDM-nya masih sangat kompetitif. Regulasi investasi sangat lancar dan infrastruktur juga masih baik juga. Tapi yang penting hubungannya antara individunya," ujarnya.

Berikut beberapa konsekuensi yang bisa terjadi gara-gara brexit mandek:

1. Kekurangan makanan tertentu, terutama buah dan sayuran segar.
2. Kenaikan harga beberapa makanan
3. Biaya baru £ 13 miliar ($ 17 miliar) untuk administrasi perusahaan.
4. Tarif UE sekitar 70% untuk daging sapi dan 45% untuk ekspor domba.
5. Hilangnya pengaturan perdagangan bebas dengan negara-negara termasuk Jepang dan Turki.
6. Kehilangan akses pasar dan hambatan perdagangan baru untuk sektor layanan Inggris.
7. Mengurangi aliran barang melintasi Selat Inggris di Dover (das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed