Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 17 Mar 2019 17:18 WIB

Co Working Space, Kantor Tak Perlu Lagi Resepsionis Cantik

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: Herdi Alif Al Hikam detikcom Foto: Herdi Alif Al Hikam detikcom
Jakarta - Co working space alias ruang kerja bersama sedang menjadi primadona bagi para pekerja di kota besar. Tak perlu memiliki kantor para pekerja bisa menyewa meja kerjanya sendiri.

Ruang kerja ini menjadi sebuah fenomena yang cukup unik, bahkan seakan-akan menggeser istilah "ngantor". Co working space pun menjamur di beberapa kota besar.

Lalu apa sebenarnya yang membuat ruang kerja bersama ini 'ngetren' dan menjamur di masyarakat?

Pendiri sekaligus pemilik U8 Offices salah satu penyedia co working space di Jakarta, Fariz Rachman menilai bahwa digitalisasi yang terjadi di zaman sekarang mendorong fenomena ini terjadi. Dia menjelaskan bahwa digitalisasi mendorong bergesernya kebutuhan akan sebuah 'kantor'.

Digitalisasi menurut Fariz, telah mendorong kemudahan-kemudahan untuk berusaha, mulai dari pengolahan data hingga penyusunan dokumen bisa dilakukan secara digital. Hal tersebut mendorong munculnya tempat-tempat kerja dengan jenis baru yang beragam, salah satunya co working space. Saking mudahnya dia menilai kini para pekerja tak butuh lagi kerangka konvensional sebuah kantor.

"Terminologinya peng-cloud-an semuanya, sehingga orang tidak lagi butuh kerangka konvensional, alhasil orang tidak butuh lagi kantor yang butuh resepsionis yang ganteng yang cantik misalnya. Saya rasa, itu yang berkontribusi bikin tempat kerja jenis baru, termasuk co working space," jelas Fariz.


Di lain pihak, Muh, Public Relation dari Kolega salah satu penyedia jasa co working space lainnya menuturkan bahwa co working space menjamur karena kebutuhan para pekerja. Dia menilai kini banyak pekerjaan yang memang membutuhkan fleksibilitas.

Menurut Muh justru kini banyak pekerja yang pekerjaannya sangat dinamis maka dari itu pekerja membutuhkan tempat kerja dengan fleksibilitas tinggi. Apalagi dengan kemunculan beberapa profesi digital karena kemajuan teknologi.

"Kebutuhan sih ya karena memang orang butuh ruang kerja yang fleksibel gitu, kita ikutin tren pekerja sekarang mereka butuh ruang kerja yang fleksibel. Banyak milenial, pekerja jaman now lah, yang pekerjaannya dinamis dan juga butuh tempat kerja yang mendukung, dari segi waktu dan tempat," ungkap Muh.

Bukan hanya fleksibel saja, desain interior yang ada pada co working space pun menjadi daya tarik para pekerja, yang memang pada umumnya masih berusia muda. Muh menilai pekerja-pekerja muda ini juga butuh tempat kerja yang tidak membosankan dengan suasana yang nge-pop dan trendy.

Muh menyimpulkan karena potensi kebutuhan tersebut, maka co working space menjadi menjamur. Apalagi menurutnya yang membutuhkan pun cukup banyak, tidak heran apabila ruang kerja bersama ini menjamur.


"Penyewa kita banyak milenial ya rentang umur 22-30 an lah, mereka ini suka tempat kerja yang nge-pop dan trendy. Kebanyakan juga kan co working space itu nggak kaku ya desainnya, arsitekturnya, segala macamnya. Intinya, kenapa kita jadi tren, karena kita menjawab kebutuhan yang memang lagi ada dan banyak," ungkap Muh.

Muh mengambil contoh, sebuah perusahaan rintisan yang biasanya hanya memiliki sedikit karyawan di dalamnya, karena sedikit menurutnya tidak mungkin mereka akan menyewa sebuah kantor. Belum lagi dengan pekerjaan mereka yang memang dinamis dan butuh fleksibilitas yang tinggi.

"Misalnya kaya startup gitu, sering itu mereka cuma 2-3 orang doang isinya, ya sedikit orang gitu aja kan masa mau nyewa kantor? Biar fleksibel mereka juga mending ke co working, mereka butuh desk buat berapa orang, mereka butuhnya kapan," ungkap Muh. (das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed