Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 18 Mar 2019 22:45 WIB

Kemnaker Ingin Lebih Banyak WNI Bisa Magang ke Jepang

Nabilla Putri - detikFinance
Foto: Kemnaker Foto: Kemnaker
Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menerima kunjungan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Perindustrian (METI) Jepang beberapa waktu lalu. Kunjungan METI tersebut dalam rangka membicarakan kebutuhan tenaga kerja asing yang sangat besar di Jepang.

Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Dirjen Binalattas) Bambang Satrio Lelono yang menerima secara langsung perwakilan METI Yoko Ikeda di ruang kerjanya akhir pekan lalu, ia pun mengatakan siap memenuhi kebutuhan Jepang akan tenaga kerja Indonesia. Pasalnya, saat ini Pemerintah Indonesia juga tengah fokus terhadap program peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga Indonesia percaya diri bisa membantu Jepang.

"Saya menyambut baik kunjungan ini karena pada waktu yang sama pemerintah Indonesia juga sedang fokus dan memberikan prioritas pada program peningkatan kualitas SDM," ungkap Satrio dalam keterangannya, Senin (18/3/2019).

Turut hadir pada pertemuan tersebut meliputi perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Taro Araki, Japan External Trade Organization (JETRO) Hiroki Yoshida. Selain itu juga ada Presiden Direktur dan Direktur PT OS Selnajaya Indonesia yaitu Satoshi Miyajima serta Imron Munfaat.


Kemnaker memang tengah fokus menggenjot peningkatan kompetensi SDM melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Satrio pun optimistis lulusan BLK mampu bersaing di dunia industri, baik di dalam maupun di luar negeri, termasuk di Jepang.

"Kami akan menyesuaikan sistem pelatihan di BLK dengan kebutuhan sektor industri, baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia," kata Satrio.

Guna melancarkan langkah pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Jepang, Satrio meminta Negeri Sakura tersebut segera merumuskan standar kebutuhan industri di negaranya. Hal tersebut agar Indonesia bisa menyesuaikan kurikulum pelatihan di BLK sesuai dengan standar mereka.

"Pemerintah Indonesia akan mengadopsi standar tersebut sebagai standar kompetensi kerja (SKK) khusus yang akan menjadi standar dan pedoman dalam proses pelatihan maupun uji kompetansi bagi calon tenaga kerja yang nantinya akan bekerja di Jepang," papar Satrio.


Sementara itu, Yoko Ikeda menjelaskan maksud pertemuan tersebut terkait dengan kebutuhan Jepang akan tenaga kerja asing khususnya dari Indonesia. Terhitung mulai 1 April 2019, akan diberlakukan visa kerja baru untuk tenaga kerja asing pada 14 sektor bidang pekerjaan.

"Selama ini Jepang sangat terbantu dengan program pemagangan, termasuk peserta pemagangan dari Indonesia. Dengan diberlakukannya visa kerja baru tersebut peserta magang yang telah menyelesaikan program pemagangan berkesempatan bekerja di Jepang dengan visa kerja keterampilan khusus atau dalam bahasa Jepang disebut tokuteiginou," ungkap Ikeda.

Hanya saja, lanjut Ikeda, jika hanya mengandalkan peserta magang, tentu tidak bisa mencukupi kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Dalam skema visa kerja tokuteiginou tersebut, Ikeda berharap peserta magang yang telah pulang ke Indonesia bisa kembali bekerja di Jepang.

"Selain itu, ada juga jalur melalui pemegang visa pendidikan (ryugakusei), atau tenaga kerja baru yang belum pernah bekerja di Jepang, namun mempunyai kemampuan bahasa dan tingkat keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri di Jepang," tutur Ikeda.


Kemnaker Ingin Lebih Banyak WNI Bisa Magang ke Jepang


(idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed