Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Mar 2019 21:30 WIB

Warga Taman Nasional Komodo Ingin Listrik 24 Jam hingga Air Bersih

Danu Damarjati - detikFinance
Foto ilustrasi: Anak di Pulau Papagarang, kawasan Taman Nasional Komodo, NTT (Dikhy Sasra/detikcom) Foto ilustrasi: Anak di Pulau Papagarang, kawasan Taman Nasional Komodo, NTT (Dikhy Sasra/detikcom)
Labuan Bajo - Haji Aksan memperlihatkan foto dirinya bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dia pajang di dinding kantor. Dia ingat betul, aspirasi yang dia sampaikan langsung ke Jokowi pada 2015 silam benar-benar diwujudkan dua tahun sesudahnya.

"Waktu saya ketemu Pak Jokowi, saya usul pelayanan listrik di kampung. Dua tahun setelahnya, PLTD (Pembangun Listrik Tenaga Diesel) dibangun di sini," kata Aksan kepada detikcom, Rabu (27/2/2019).

Desa ini dihuni 1.740 jiwa dan 470 kepala keluarga. Namun belum semua rumah per kepala keluarga mendapat setrum negara. Ada 70-an kepala keluarga golongan ekonomi lemah yang belum mampu untuk sekadar membayar listrik yang meyala dari jam 17.00 hingga 06.00 WITa itu. Dia berharap ada daya lebih kecil yang disediakan PLN supaya semua keluarga bisa membayar tarifnya. Listrik juga perlu 24 jam.

"Listrik 24 jam juga jadi harapan kami. Nelayan di sini butuh listrik untuk membuat es agar ikan bisa lebih awet," kata Aksan.

Harapan Warga Taman Nasional Komodo: Listrik 24 Jam hingga Air BersihSuasana permukiman Suku Komodo di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. (Dikhy Sasra/detikcom)

Listrik yang menyala saat hari gelap adalah hal biasa di kepulauan Manggarai Barat ini. Di pulau kawasan Taman Nasional Komodo lainnya, yakni Pulau Rinca dan Pulau Papagarang, mereka juga mengalaminya. Meski begitu mereka bersyukur.

"Listrik dari PLN Alhamdulillah mulai dari jam setengah enam sore sampai jam tujuh pagi," kata Sekretaris Desa Pasir Panjang Pulau Rinca, Ibrahim Hamso, Senin (25/2/2019). Dari 320 rumah di sini, hanya 168 rumah yang dialiri listrik PLTD. Desa ini dihuni 1.640 penduduk dengan 468 kepala keluarga.



Di Papagarang, penduduk menggunakan listrik dari warga yang menyediakan jasa genset. Ongkosnya Rp 5 ribu per hari atau Rp 150 ribu per bulan. Dari 325 rumah, hanya 180 rumah yang dialiri listrik, yang lain memakai lampu minyak. Sekretaris Desa Papagarang, Ridwan (32), menjelaskan PLN sudah berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan bakal beroperasi pada Juni nanti. Soalnya, listrik dari genset-genset yang dimiliki warga sering mati. Peralatan elektronik jadi mudah rusak. Namun rencana PLN untuk membangun PLTS membuat para nelayan lebih berani berencana membeli kulkas guna membuat es yang bisa mengawetkan hasil laut.

"Sebelumnya bikin es hanya sebatas angan-angan. Tapi dengan adanya rencana PLN, mereka sudah berencana membeli kulkas," kata Ridwan.

Harapan Warga Taman Nasional Komodo: Listrik 24 Jam hingga Air BersihPermukiman di Pulau Papagarang (Dikhy Sasra/detikcom)

Penduduk di pulau-pulau kawasan Taman Nasional Komodo ini kebanyakan bekerja sebagai nelayan atau pariwisata. Di Pulau Komodo, penduduk yang bekerja di bidang pariwisata lebih banyak ketimbang pulau-pulau lainnya. Yang bekerja sebagai nelayan sepenuhnya sekitar 30%. Desa Komodo juga telah memiliki homestay, jumlahnya ada 30 rumah sejak 2011. Kepala Desa Komodo Haji Aksan menilai penduduknya punya potensi di bidang pariwisata, namun di lokasi yang disebut sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia baru ini, ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Dia menunjuk dermaga kayu di kampungnya yang sudah reyot. Dermaga itu tentu tidak bisa menjadi sandaran kapal-kapal besar yang digunakan wisatawan.

"Dermaga kayu itu sudah empat kali diperbaiki. Ini kasihan, desanya desa pariwisata tapi masih perlu perhatian. Dana Desa tidak cukup untuk membangun dermaga, karena membangun dermaga beton yang layak butuh sekitar Rp 5 miliar," kata Aksan. Dana Desa yang diterima Desa Komodo sekarang adalah Rp 770 juta, meski belum cair. Dana itu akan digunakan untuk membangun drainase, pemberdayaan nelayan, dan pembuatan tempat berdagang kuliner untuk menunjang pariwisata desa. Berbeda dengan Pulau Komodo, Pulau Rinca sudah memiliki dermaga kokoh hasil gotong royong BUMN senilai Rp 4,38 miliar yang diresmikan Menteri Rini Soemarno pada 2018.



Di Rinca, suara permintaan warga bukan lagi dermaga, tapi air bersih. Warga Desa Pasir Panjang hanya punya opsi air tawar gratis dari sumur berjarak 30 km dari desa. Warga selalu mengantre, bila terlalu banyak yang mengambil air maka sumur kecil itu akan kering dan perlu menunggu dua hingga tiga jam supaya airnya muncul kembali.

"Waktu masyarakat habis hanya untuk air, menyita waktu," kata Sekdes Ibrahim Hamso. Yang punya uang bakal membeli air dari Labuan Bajo seharga Rp 25 ribu per jeriken. Dia berharap pemerintah bisa membangun fasilitas atau menyiapkan kapal guna menyuplai kebutuhan air bersih untuk minum dan mandi.

Di Pulau Papagarang, warga terbiasa mandi menggunakan air laut baru dibilas sekali menggunakan air tawar. Di sini warga membeli air bersih seharga Rp 35 ribu per drum berisi 120 liter. Air sebanyak itu biasanya digunakan satu keluarga untuk sepekan. Bagi yang ingin mendapat listrik genset, mereka membayar Rp 150 ribu per bulan.

Harapan Warga Taman Nasional Komodo: Listrik 24 Jam hingga Air BersihWarga Papagarang mengakses air bersih. (Dikhy Sasra/detikcom)

Mayoritas warga Papagarang hidup dari hasil laut. Para nelayan di sini, sebagaimana nelayan tradisional pada umumnya, punya penghasilan yang tak pasti. Kadang bisa mendapat banyak uang, tapi kadang juga tidak ada uang sama sekali, atau malah rugi. "Jadi berat juga membeli air dan listrik," kata Sekdes Papagarang, Ridwan.

Papagarang mendapat Dana Desa sebesar Rp 733.104.00,00 di tahun 2019. Rencananya, dana itu akan digunakan untuk penyertaan modal BUMDes, pembangunan tanggul pencegah abrasi, dan instalasi listrik ke Puskesmas Pembantu supaya ibu-ibu bisa melahirkan dengan selamat di tengah malam.



Warga di Pulau Komodo berharap alat transportasi laut bisa lebih baik lagi. Warga yang berprofesi sebagai pedagang berharap agar ada ojek kapal ke Labuan Bajo dengan ukuran besar. Selama ini hanya ada empat kapal yang bergiliran beroperasi namun ukurannya kecil, sehingga bakal urung melaut bila cuaca sedang tidak mendukung. Ongkos kapal itu Rp 30 ribu per kepala.

Harapan Warga Taman Nasional Komodo: Listrik 24 Jam hingga Air BersihPulau Papagarang (Dikhy Sasra/detikcom)

"Sekarang ke Labuan Bajo ya pakai kapal-kapal kecil semua. Untuk keamanan ini kurang baik. Kalau cuaca buruk tidak berani jalan. Jadi perlu kapal lebih besar sehingga ongkos juga tidak terlalu berat," kata Bahtiar (48) yang juga pemilik kios sembako di Desa Komodo.

Kapal-kapal yang berangkat ke Labuan Bajo tiap Minggu, Selasa, dan Jumat itu diandalkan Bahtiar untuk kulakan sembako. Di Desa Komodo, dia menjual beras bramo seharga Rp 10 ribu per liter. Untuk mendatangkan beras ke pulau ini, ojek kapal mengenakan harga Rp 10 ribu per karung beras, plus ojek sepeda motor yang membawa dari dermaga ke kios seharga Rp 10 ribu.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.



(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed