Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 27 Mar 2019 14:29 WIB

Sawit Ditolak Eropa, RI Genjot BBM Nabati

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Agus Setyadi/detikcom Foto: Agus Setyadi/detikcom
Jakarta - Uni Eropa (UE) melakukan kampanye hitam sawit terhadap produk kelapa sawit karena disebut merusak lingkungan. Hal ini pun membuat permintaan menurun yang akhirnya berdampak pada harga.

Namun, Indonesia tak hanya berdiam diri. Saat ini pemerintah tengah mendorong industri dengan program penyerapan sawit.

Menurut Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) Dono Boestami program penyerapan sawit yang dimaksud adalah biodiesel. Hanya saja, ia mengingatkan program ini masih memiliki kendala.



"Tugas utama itu supply terserap. Aturan biodiesel itu sudah ada," kata dia dalam paparan di acara Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi di Ayana Midplaza Hotel, Jakarta, Rabu (27/3/2019).

Selain itu, ia juga mengungkapkan program lain yang bisa mendorong industri sawit, yakni green fuel (bahan bakar berbahan dasar kelapa sawit). Sebab, saat ini Indonesia telah memiliki teknologi dari program itu.

"Green fuel itu pelengkap dari program B30. Tidak usah muluk-muluk B50-B100, kembangkan green fuel sudah bagus, karena 100% CPO, teknologinya sudah ada, kenapa tidak dikembangkan?" sambung dia.



Ia mencontohkan pengembangan program green fuel ada di Plaju, Palembang milik PT Pertamina. Bahkan, program tersebut juga tengah dikembangkan di kilang Dumai, Riau untuk menghasilkan green diesel.

"Semua sudah terbukti, tinggal mau jalani apa tidak. Untuk B30, mudah-mudahan sebelum tutup buku tahun ini sudah bisa dijalankan," pungkasnya.



Simak juga video Indonesia Sepakat Lawan Diskriminasi Sawit Uni Eropa:

[Gambas:Video 20detik]


Sawit Ditolak Eropa, RI Genjot BBM Nabati
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com