Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 29 Mar 2019 15:20 WIB

Saat Warga Pulau Madapolo Merindukan Kapal Tol Laut

Danu Damarjati - detikFinance
Pelabuhan Jojame, Pulau Madapolo. (Danu Damarjati/detikcom) Pelabuhan Jojame, Pulau Madapolo. (Danu Damarjati/detikcom)
Halmahera - Di pinggir laut Pulau Madapolo, Aman H Hasanah (53) mengawasi pengerjaan tahap akhir kapal penangkap ikannya. Material-material pembuat kapalnya itu dia datangkan dari luar pulau kecil ini, caranya dengan memanfaatkan program Tol Laut.

"Saya terbantu sekali dengan Kapal Sabuk Nusantara itu. Bahan-bahan dari Ternate saya datangkan ke sini menggunakan kapal itu," kata Aman di pulau yang berada persis di utara Pulau Obi ini, Rabu (6/3/2019).

Saat Pulau Madapolo Merindukan Kapal Tol LautAman H Hasanah, warga Pulau Madapolo yang memanfaatkan Kapal Tol Laut Sabuk Nusantara (Agung Pambudhy/detikcom)

Di Madapolo ini, ada Pelabuhan Jojame. Biasanya, Kapal Sabuk Nusantara 40 yang dimanfaatkan Aman itu sandar di Pelabuhan Jojame. Namun akhir-akhir ini, kapal itu sudah tak pernah kelihatan lagi.


"Sudah dua bulan lebih ini sudah tidak muncul lagi," kata Staf Syahbandar Pelabuhan Jojame, Lukman Odeiba (53), kepada detikcom saat siang hari terik. Dia berharap kapal itu segera nampak lagi di sini.

Dia menceritakan, masyarakat dulu sangat antusias memanfaatkan Kapal Sabuk Nusantara. Soalnya, kapal itu dapat mengantarkan orang dan barang ke pulau-pulau lain dengan ongkos lebih murah namun tetap nyaman.

Contohnya, tiket Kapal Sabuk Nusantara dari pulau ini ke Ternate seharga Rp 20 ribu saja. Bila mereka naik kapal swasta, maka tiketnya bisa ratusan ribu Rupiah. Terjangkaunya harga tiket dimanfaatkan oleh rakyat kelas pekerja Maluku Utara yang biasa datang ke sini untuk menjual tenaganya sebagai pemanen cengkih.

Saat Pulau Madapolo Merindukan Kapal Tol LautPelabuhan Jojame, Pulau Madapolo. (Danu Damarjati/detikcom)

"Masyarakat dulu banyak yang ikut Sabuk Nusantara untuk pergi ke Sanana, Kepulauan Sula. Orang-orang Buton dari Sanana ke Madapolo untuk bekerja memanen cengkih. Jadi kalau masa panen itu ramai sekali. Kadang sampai lima ribu orang di pelabuhan ini. Mereka paling suka naik Sabuk Nusantara, karena tiket terjangkau dan kapalnya luas," tutur Lukman.




Lukman berbincang sembari istirahat usai keramaian pelabuhan berakhir tiga jam sebelumnya. Di Pelabuhan Jojame ini, masyarakat Madopolo biasa berkumpul untuk pergi ke lain-lain pulau. Barang-barang juga keluar masuk dari sini. Pelabuhan begitu berarti bagi warga.

"Pelabuhan ini mulai beroperasi tahun 2014, dan masyarakat antusias. Karena bagaimanapun juga pelabuhan yang layak di sini ya cuma pelabuhan milik Kementerian ini," kata dia.

Total ada tujuh kapal yang sandar di Pelabuhan ini. Rutenya mulai dari Pulau Obi, Jojame ini, hingga ke Ternate jauh di utara. Tiap hari ada kapal yang sandar. Hanya saja, Kapal Sabuk Nusantara tak kunjung hadir. Masyarakat setempat sudah merindukan kehadiran Kapal itu.

Kapal Sabuk Nusantara digunakan sebagai pendukung tol laut, yakni program pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melancarkan keterhubungan titik satu dan lainnya di sekujur negara maritim ini. Ada banyak Kapal Sabuk Nusantara dengan daerah operasi masing-masing, salah satunya termasuk yang pernah beroperasi melintasi Pelabuhan Jojame di pulau ini.




Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan Wisnu Handoko menjelaskan Pelabuhan Jojame di Pulau Madapolo dilewati oleh Armada Tol Laut Perintis trayek R66. Frekuensinya adalah sebulan dua kali. Kapal itu melewati rute Ternate, Mayaou, Bitung, Pigaraja, Madapolo, Laiwui, Sanana, Dofa, Tikong-tikong, Pigaraja, dan Ternate lagi.

Tol Laut melayani rute-rute yang memenuhi kriteria tertinggal, terluar, terpencil, dan perbatasan (T3P). Kepala Bagian Organisasi dan Humas Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Yan Prastono Ardi, menjelaskan penetapan suatu daerah masuk kriteria T3P ditentukan oleh Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP). Ini sesuai dengan Perpres Nomor 70 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang dari dan ke Daerah Tertinggal Terpencil Terluar dan Perbatasan.

Armada itu dioperasikan oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Sebelumnya, armada yang dipakai adalah Kapal Sabuk Nusantara 40. Belakangan, armada itu diganti dengan Kapal Sabuk Nusantara 86.

Lalu kenapa sudah dua bulan ini Kapal Sabuk Nusantara tak sandar lagi di Pelabuhan Jojame? Padahal kapal angkutan orang dan barang itu dirindukan masyarakat. Ini karena kapal itu tengah naik dok (docking) untuk menjalani proses perbaikan baling-baling.

Proses naik dok yang tengah dijalani Kapal Sabuk Nusantara 86 ada di Ternate. Baling-baling yang akan dipasang di kapal itu didatangkan dari Jakarta, namun pemasangan akan dilakukan di Bitung, Sulawesi Utara. Pelni memperkirakan proses perbaikan ini akan selesai pertengahan April nanti.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.


(dnu/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com