Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 03 Apr 2019 10:33 WIB

Menangkap Peluang Bisnis Gudang di Tengah Maraknya Belanja Online

Dana Aditiasari - detikFinance
Ilustrasi Gudang Foto: Getty Images Ilustrasi Gudang Foto: Getty Images
Jakarta - Transaksi virtual menjadi hal yang tidak asing bagi masyarakat milenial. Bank Indonesia menyebutkan, sekitar 24,73 juta orang berbelanja online selama 2016. Dengan total belanja menembus Rp 75 triliun, sehingga rata-rata setiap orang yang berbelanja online menghabiskan sekitar Rp 3 juta per tahun.

Data Sensus Ekonomi 2016 BPS menyebutkan, selama 2006-2016 jumlah e-commerce di Indonesia naik hingga 17%. Totalnya mencapai sekitar 26,2 juta pelaku e-commerce.

Maraknya belanja online meningkatkan permintaan gudang utamanya dari perusahaan ekspedisi maupun juga perusahaan penyedia jasa belanja online untuk menyimpan sementara produknya sebelum dikirim ke konsumen.

Peluang ini ditangkap, PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk. Emiten berkode saham CSIS ini berencana merangsek ke bisnis pergudangan di kawasan Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat pada 2019.


Masuknya perseroan ke bisnis pergudangan sekaligus sebagai jurus penguatan pendapatan berkesinambungan (recurring income).

"Tahun ini, kami berharap bisa menggaet penyewa untuk bisnis pergudangan," ujar Direktur Utama PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) Au Bintoro, dalam keteranganyang diterima, Rabu (3/4/2019).

Dia menambahkan, gudang yang dibangun perseroan berdiri di atas lahan seluas 10 hektar (ha) yang akan dibangun bertahap. Bisnis pergudangan bagian dari sayap bisnis konstruksi perseroan. Selain pergudangan, bisnis lainnya adalah pengadaan furniture dan pembangunan pabrik.

Menurut dia, tahun 2019 bisnis sewa gudang diyakini memperkuat keuangan perseroan. Jumlah pendapatan yang bakal dikantongi cukup signifikan. Hal tersebut mengingat luas area yang dimiliki dan calon penyewa utama adalah perusahaan cukup ada nama.

"Kini, kami dalam tahap pembahasan perjanjian dengan calon penyewa gudang," papar Au Bintoro.

Perseroan selama ini mengandalkan bisnis properti hunian untuk mendulang pendapatan. Proyek utama saat ini adalah Pine Garden, hunian tapak dua lantai di kawasan Bogor. Tahun 2017, hunian Pine Garden dibanderol Rp 700 juta hingga Rp 900 juta per unit, namun kini dilego berkisar Rp 1,1 miliar hingga Rp 1,5 miliar per unit tergantung type nya.

"Prospek Pine Garden sangat menjanjikan, selain capital gain, proyek kami juga menghadirkan hunian yang nyaman dan ramah lingkungan," jelas Au Bintoro.


Pada 2019, CSIS menargetkan pendapatan secara marketing Rp 150 miliar dari Pine Garden.

"Hingga kini kami telah menjual 129 unit hunian di Pine Garden. Target hingga Desember 2019 kami mulai serah terima secara bertahap," jelas dia.

Pine Garden merupakan bagian dari Olympic City seluas 25 hektare yang kelak menjadi pusat kawasan bisnis (Central Business District /CBD) Bogor. Selain hunian tapak, nantinya di Olycmpic City juga hadir hunian vertikal (apartemen), perkantoran, dan mal Olympic Interjunction seluas 90.000 meter persegi.

Menurut perkiraan, tahun 2019, CSIS akan menggarap proyek senilai Rp 200 miliar, hal ini merupakan bagian dari langkah perseroan untuk memperkuat kinerja keuangan.

PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering /IPO) pada 10 Mei 2017 dengan menawarkan harga perdana Rp 300/saham. Perseroan melepas 207 juta saham dan meraih dana Rp 62,10 miliar dari pasar modal (dna/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com