Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 10 Apr 2019 09:28 WIB

Apa yang Dikerjakan BUMN 'Si Unyil' Selama 26 Tahun Mati Suri?

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta -

BUMN perfilman, Perum Produksi Film Negara (PFN) baru meluncurkan film baru pada Maret 2019 kemarin. Film berjudul Kuambil Lagi Hatiku itu merupakan film teranyar PFN sejak berproduksi terakhir kalinya pada 1992 silam.

Lantas, apa yang dilakukan PFN selama lebih dari dua dekade tak memproduksi film?

Direktur Utama PFN Mohamad Abduh Aziz sendiri mengaku tak banyak memiliki informasi dengan apa yang terjadi pada PFN dalam kurun waktu tersebut. Sebab, Abduh juga merupakan orang baru pertengahan 2016 masuk PFN.

"Ini masa yang sebenarnya saya juga nggak banyak informasi. Sebenarnya kami ini benar-benar new kid on the block di-challenges untuk membenahi PFN, dan tanpa pengetahuan yang ... sebenarnya kita nggak tahu persis apa yang membuat PFN vakum selama ini," kata Abduh kepada detikFinance di kantornya, Senin (8/4/2019).

Meski begitu, dari pengalamannya memimpin PFN selama 2,5 tahun ini, ia menilai BUMN yang memproduksi serial anak Si Unyil itu vakum karena ketidakjelasan status dan masalah anggaran.

"Tapi kalau dari yang kita pelajari di sini, memang ada satu situasi transisi yang memang tidak terelakkan. Dulu kan Departemen Penerangan dibubarkan, ingat zaman Gusdur," jelasnya.


"Ada situasi panjang di mana tidak jelas sebenarnya driver-nya ada di mana. Mungkin itu yang dihadapi Dirut-Dirut sebelumnya, karena ketidakjelasan status di bawah siapa. Kemudian juga tidak ada kejelasan anggaran," sambung nya.

Kondisi ini, kata Abduh, berbeda dengan sebelumnya, di mana PFN yang berada di bawah Departemen Penerangan mendapat anggaran dari APBN.

"Kalau dulu kan enak, di bawah Departemen Penerangan ada APBN. Nah begitu menjadi BUMN kan semuanya harus..., bukannya tergantung pada APBN, tapi kalau bisa malah memberikan kontribusi, keuntungan pada negara," kata Abduh.

Abduh pun mengakui, bahwa selama ini PFN hanya diam tak menghasilkan banyak karya. Aset lama seperti laboratorium yang dimiliki PFN pun tak lagi digunakan.

"Iya diam. Apalagi migrasi, dulu kan kita punya banyak peralatan dari segi infrastruktur. Dulu kita punya laboratorium celluloid, begitu migrasi ke digital kan habis nggak dipakai. Peralatannya masih analog semua," jelasnya.

Untuk itu, Abduh mengatakan, perhatian pemerintah kini sangat dibutuhkan agar bisa membuat PFN terus hidup hingga bisa kembali ke masa kejayaannya dulu.

"Ini sebenarnya butuh investasi. Nah kita sih berharap ke depan ada semacam perhatian dari pemerintah juga untuk melihat soal ini," tutur Abduh.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com