Ekonomi RI Dikuasai Asing Hoax atau Tidak? Ini Kata Ekonom

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 11 Apr 2019 15:55 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Ekonomi menjadi isu yang paling sering dibahas dalam kontestasi politik tahun ini. Kubu oposisi selalu menggunakan ekonomi sebagai senjata untuk membidik titik lemah kubu petahana.

Salah satu isu yang pernah digunakan adalah perekonomian Indonesia sudah dikuasai pihak asing. Beredar juga foto peta Indonesia yang bertaburan bendera asing yang mengesankan asing telah menguasai Indonesia.

Hal itu menjadi salah satu bahasan Ekonom Faisal Basri saat menggelar Panggung Kabaret yang berisi orasi untuk men-counter hoax di masa pemilu. Menurutnya data dari foto itu adalah hoax.

"Data justru menunjukkan Indonesia jauh dari dikuasai asing. Perekonomian Indonesia tidak saja tidak dikuasai asing, melainkan justru sebaliknya, peranan asing relatif kecil dalam pembentukan kue nasional (produk domestik bruto/PDB)," ujarnya saat orasi dalam Panggung Kabaret Tek Jing Tek Jing di Energy Building, Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Menurutnya sepanjang sejarah kemerdekaan, perekonomian Indonesia tidak pernah didominasi oleh asing. Arus investasi langsung asing (foreign direct investment) yang masuk ke Indonesia rata-rata setahun hanya sekitar 5% dari keseluruhan investasi fisik atau pembentukan modal tetap bruto.


"Angka tersebut sangat kecil apabila kita sandingkan dengan negara-negara tetangga dekat seperti Malaysia dan Filipina, yang peranan modal asingnya berkali lipat jauh lebih besar dari kita," tambahnya.

Dengan negara komunis sekalipun seperti Vietnam dan negara sosialis seperti Bolivia, tambah Faisal, investasi asing Indonesia selalu lebih kecil. Peranan investasi asing di Indonesia berada di bawah rata-rata Asia, apalagi dibandingkan dengan negara di kawasan Asia Tenggara.

Faisal menilai Indonesia tidak pernah mengandalkan modal langsung asing untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Akumulasi kehadiran investasi langsung asing hingga sekarang tidak sampai seperempat dari PDB.

"Memang belakangan ini meningkat jika dibandingkan dengan rerata selama kurun waktu 2000-2004 yang baru 7,1%, namun masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan Vietnam 50,5%, Bolivia 33,7%, Asia 25,7%, dan Asia Tenggara 66,1%," ujarnya.

(das/fdl)