Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 15 Apr 2019 16:18 WIB

Beda Holding BUMN RI dengan Singapura dan Malaysia

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: ar Foto: ar
Jakarta - Pemerintah berencana membentuk super holding perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah tersebut ditempuh supaya BUMN kuat seperti halnya BUMN negara tetangga Temasek Holdings (Singapura) dan Khazanah Nasional Berhad (Malaysia).

Namun begitu, masih ada banyak perbedaan antara holding Indonesia dengan super holding Singapura dan Malaysia.

Managing Director Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LMFEB UI) Toto Pranoto menerangkan, Temasek dan Khazanah merupakan super holding yang bertindak mengelola portofolio atau aset. Super holding itu bertindak sebagai manajemen investasi di mana bisa menjual atau membeli aset perusahaan.

"Kalau ada aset yang sudah kelihatan portofolio menurun mungkin mereka bisa lepas, bisa jual. Kemudian mereka lihat prospek anak perusahaan atau perusahaan baru yang ke depannya cerah mereka akan beli," katanya kepada detikFinance, Senin (15/4/2019).


Dia melanjutkan, itu berbeda dengan holding perusahaan BUMN Indonesia. Perusahaan holding di Indonesia masih bertindak sebagai operator atau menjalankan bisnis perusahaan.

"Jadi bedanya kalau Temasek dan Khazanah yang mereka kelola portofolio aset management. Kalau Indonesia masih tahap mengelola masing-masing perusahannya," tambahnya.

Selanjutnya, Toto mengungkapkan, super holding Temasek dan Khazanah terdiri dari perusahaan-perusahaan yang bekerja dengan motif komersial. Sementara, BUMN non komersial di bawah kementerian-kementerian teknis.


Sebab itu, katanya, hal itu menjadi pekerjaan rumah pemerintah jika mau membentuk super holding.

"Itu yang mesti dibedakan pengelolaan BUMN di Indonesia, kan nggak semua BUMN juga harus fungsi komersial, yang fungsi PSO juga banyak, jadi di atur ke depannya. Kalau mau super holding Temasek Khazanah harus memperhatikan, yang tugas-tugas PSO mau dikemanakan?" tambahnya.

Di sisi lain, dia mengungkapkan banyak keuntungan yang diperoleh dari super holding. Sebutnya, kinerja BUMN lebih efisien dan optimal.

"Kenapa penting karena kondisi BUMN kalau saya bilang dari LMFEB UI kondisinya pareto, maksudnya, ada 140 BUMN cuma 25 BUMN terbesar menghasilkan 90% total salesnya. Yang betul-betul besar kuat 25 aja. Atau bahkan data 2018 keuntungan BUMN totalnya Rp 200 triliun, saya cek datanya hampir Rp 150 triliunnya itu dihasilkan 20 BUMN Tbk," tutupnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com