Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 20 Apr 2019 14:14 WIB

Ekonom: Investor Nggak Terpengaruh yang Tak Sepakat Quick Count

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Pilpres 2019/Foto: Rengga Sancaya Pilpres 2019/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Hitung cepat pemilihan presiden masih menunjukkan capres cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul di atas 50%. Pasangan kubu 02, Prbowo Subianto-Sandiaga Uno mengklaim jika mereka yang lebih unggul dibandingkan paslon 01.

Hal ini disebut-sebut berpotensi membuat investor wait and see hingga hasil real count dari komisi pemilihan umum (KPU). Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan memang ada beberapa pihak yang tidak puas dengan hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei.

"Tapi yang menarik adalah ternyata negara lain menilai quick count itu memegang peranan yang cukup penting dan banyak kepala negara yang sudah memberikan selamat kepada Pak Jokowi," kata Bhima kepada detikFinance di Jakarta, Sabtu (20/4/2019).


Hal itu menunjukkan negara-negara tersebut menilai quick count merupakan hitungan yang hampir sama dengan real count.

"Kalau dari situ sih saya melihat investor sebenarnya tidak pesimis melihat ekonomi Indonesia, karena dilihat dari stabilitas politik yang kemarin berjalan kondusif, aman dan tanpa gangguan," jelas dia.

Menurut Bhima, investor juga terlihat mulai confidence di pasar modal Indonesia ini tercermin dari mulai masuknya dan asing hingga Rp 1 triliun lebih dalam waktu satu hari.


"Ini menunjukkan confidence mereka para investor dan mereka rasanya tidak terpengaruh dengan pihak pihak yang kurang sepakat dengan quick count," ujar dia.

Bhima menyampaikan, jika dilihat memang saat ini kondisi koalisi badan pemenangan nasional (BPN) tercerai berai pasca pengumuman hitung cepat. Seperti Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menarik diri dan mengakui quick count itu valid.

Jadi seandainya ada mobilisasi massa sebelum KPU keluar diprediksi tidak terlalu besar, sehingga secara umum kondisi pemilu ini sama seperti 2014 yang tidak akan pengaruh signifikan terhadap market.

"Sekarang tren global sedang berpihak kepada Indonesia dengan banjirnya dana ini. Kemudian data China juga bagus, sehingga investor mau ke mana lagi kalau bukan di Indonesia atau emerging market yang menghasilkan return tinggi dan stabilitas makro ekonomi saat ini juga terjaga," ujar dia.

(kil/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed