Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 20 Apr 2019 14:00 WIB

Desa Nglurah di Jateng Jadi Sentra 130 Jenis Tanaman Hias

Nabilla Novianty Putri - detikFinance
Foto: Dok. Kementan Foto: Dok. Kementan
Jakarta - Tanaman hias memiliki potensi pasar ekspor yang terbuka lebar. Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi Indonesia sangat kaya akan komoditas ini.

Ia mengatakan terdapat 173 jenis tanaman hias dengan ribuan jenis varietas yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya yang tengah dikembangkan di Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Suwandi mengatakan desa tersebut memiliki 130 jenis tanaman hias.

"Lokasi desa ini sangat strategis, dataran tinggi dan daerah tujuan wisata. Desa Nglurah menjadi sentra tanaman hias dengan 130 jenis tanaman Antorium, Krisan Anggrek, Pakis, Kaktus, Bonsai, dan lainnya," ujar Suwandi dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/4/2019).


Suwandi saat meninjau budidaya tanaman hias di Desa Nglurah, Jumat (19/4) juga menyebutkan Kementan hingga kini terus mendorong sentra-sentra tanaman hias sejenis di daerah lain agar produksi dan volume ekspor semakin meningkat setiap tahunnya. Tanaman hias biasanya tumbuh subur di dataran tinggi, seperti di Brastagi, Solok, Puncak, Lembang, Tawangmangu, Batu Malang, dan lainnya.

"Kita targetkan tanaman hias yang petani produksi berkualitas ekspor agar pendapatan petani dan negara meningkat. Ini pasti bisa karena tanaman hias kita memiliki daya saing yang tinggi di pasar dunia. Keunggulan lainnya, tanaman hias kita bisa memberikan kasih sayang bagi para pecinta bunga," ungkap Suwandi.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar, Supramnaryo yang juga hadir dalam acara tersebut menuturkan budidaya tanaman hias di Desa Nglurah Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar itu melibatkan 850 Kepala Keluarga (KK) di 14 Rukun Tetangga (RT). Tanaman hias yang dikembangkan cukup banyak, yakni sebanyak 80 jenis.

"Berbagai jenis tanaman hias di sini diminati pasar dan memasok ke seluruh Indonesia, melibatkan 850 pedagang dan dipasarkan langsung ke hotel-hotel dan pelaku usaha dekorasi. Harga tanaman hias di daerah ini bervariasi, yakni tergantung jenisnya, ada Rp 2.000 hingga 500.000 perpot. Petani pun menjualnya dalam bentuk ikat," kata Supramnaryo.

Sementara itu, Wagimin salah seorang petani tanaman hias dari Kelompok Tani Taman Sari, Desa Nglurah, Tawangmangu mengatakan dirinya sudah lama menggeluti budidaya tanaman hias yang jenisnya pun bermacam-macam.

"Hingga saat ini, budidaya tanaman hias di daerah Tawangmangu ini sangat prospektif. Pasalnya permintaan pasar dalam negeri saja semakin meningkat," ungkapnya.


Selain Wagimin, ada juga Heru yang merupakan petani bunga Krisan di Desa Lebak, Kecamatan Tawangmangu mengatakan bahwa dirinya sudah 8 tahun bertani tanaman hias Krisan dan memiliki 10 jenis bunga Krisan. Bahkan, menurutnya setiap seminggu bisa panen 250 ikat yang terkadang sehari bisa mencapai 100 ikat dengan harga Rp 25.000 perikat.

"Pasar tidak ada masalah karena pedagang datang kesini rutin, diantaranya untuk dekorasi. Usaha dekorasi sekarang sudah menggunakan bunga asli semua. Ini yang membuat permintaan tinggi. Pemerintah daerah dan pusat terus membantu petani agar tanaman hias yang dibudidayakan itu terjaga kualitasnya dan harga menguntungkan," tutur Heru.

Sebagai informasi, kawasan pertanian di Tawangmangu tersebut tidak hanya menjadi sentra budidaya tanaman hias, tetapi juga sentra budidaya sayur-sayuran. Ada pun sayurannya seperti sayuran organik pockcay capri, seledri dan berbagai jenis sayuran lainnya. (prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed