Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 30 Apr 2019 20:23 WIB

Tak Atasi Kesetaraan Gender, RI Berpotensi Kehilangan US$ 135 M

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kerap mengungkapkan pentingnya kesetaraan gender. Menurutnya, perempuan memiliki peran yang besar dalam mendorong ekonomi nasional. Sri Mulyani juga kerap membahas soal potensi kerugian finansial akibat ketidaksetaraan gender antara pria dan wanita.

"Kita juga harus pikir equality (kesetaraan) itu seperti apa? kalau dari sisi konsep ekonomi, mengapa kesetaraan itu penting, salah satunya (riset) McKinsey US$ 12 triliun sampai 2025," kata Sri Mulyani beberapa waktu lalu di MidPlaza Hotel, Jakarta.

Indonesia sendiri memang disebut berpotensi kehilangan US$ 135 miliar dalam produk domestik bruto (PDB) tahunan jika gagal mengatasi kesetaraan gender dalam enam tahun ke depan. Sejumlah pengusaha pun berharap pemerintah dan sektor swasta untuk memastikan perempuan dan laki-laki memiliki akses dan manfaat yang sama dari peluang ekonomi.

Angka tersebut meningkat lebih dari 9% dari PDB pada kondisi bisnis yang biasa, adalah potensi yang mungkin didapatkan oleh Indonesia jika bisa mendapatkan kondisi kesetaraan gender terbaik di kawasan pada 2025. Hal tersebut diperkirakan oleh McKinsey Indonesia pada 2018 dan dikutip oleh pembicara pada konferensi yang berjudul "Accelerating the Indonesian Economy Through Gender Equality".

"Gender parity didambakan untuk itu (mencapai PDB), lalu selanjutnya bagaimana kita menuju ke sana. Semua pihak harus berpartisipasi tentu di dalamnya juga ada porsi peran pemerintah, swasta, dan individu," ujar Managing Partner McKinsey Indonesia Phillia Wibowo dalam keterangannya, Selasa (30/4/2019).

Dia juga mengutarakan, terdapat beberapa poin yang perlu dicermati untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam dunia kerja di Tanah Air. Tidak hanya menciptakan pemerataan kesempatan tetapi juga disertai perlindungan hukum dan jaminan hak partisipasi politik. Seluruh penerapannya harus sinergis dari tingkat daerah hingga pusat.


Chief of Staff Tokopedia Inna Chandika menjadi salah satu pembicara dalam konferensi ini. Dia menuturkan, untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam dunia kerja harus dimulai dari masing-masing individu. Dengan kata lain, secara personal, seorang perempuan harus melawan pola pikir diri sendiri yang mungkin membatasi propsek karirnya.

"Masalah kita adalah soal persepsi, misalnya bahwa industry STEM selalu male centric. Pangkalnya adalah kesedaran dan persepsi dari para perempuan sendiri, mereka mampu untuk masuk dan berkarya di dunia kerja," ucapnya.

Deputy Managing Director DEKA Marketing Research Yanti Nisro Corbett mengutarakan, kehadiran perempuan secara lebih setara dalam dunia kerja khususnya jajaran manajemen senior mampu membuat perusahaan lebih dinamis dan inovatif. "Engagement dalam perusahaan juga lebih tinggi," katanya.

Sementara itu, Evan Indrawijaya, Human Resource Director Danone Indonesia mengatakan, selain mendorong perempuan, laki-laki juga harus mengambil peran demi terciptanya kesetaraan gender. Hal itu bisa dimulai dengan berbagi peran di rumah tangga, hingga bagaimana para pemimpin laki-laki di tempat kerja bisa memberikan kesempatan yang sama pada perempuan.

Government Affairs & Policy Director General Electric Indonesia, Donna Priadi juga menyatakan pentingnya panutan, mentor dan sponsor bagi perempuan. Dengan kehadiran support system tersebut juga bisa meningkatkan kepercayaan diri perempuan untuk bisa terus menuju kesuksesan.

Konferensi ini menandai selesainya kampanye kesetaraan gender selama setahun yang dijalankan oleh Katadata Indonesia dengan dukungan dari Investing in Women (IW) - sebuah inisiatif dari Pemerintah Australia yang mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan di Indonesia, Filipina, Vietnam dan Myanmar.

Di dalam sambutan, Direktur Katadata Heri Susanto menjelaskan bahwa Asia Pasifik termasuk Indonesia, populasi perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki di lapangan kerja. Sejalan dengan itu, hanya 20 persen perempuan di posisi manajerial dan baru 5 persen di jajaran direksi dan CFO.

"Namun, dalam beberapa tahun ini, ada kabar baik. Era digital di Indonesia memberi banyak bukti bahwa perempuan semakin mandiri dan berkembang pesat dalam menjalankan bisnis mereka," katanya.


Dalam keynote-nya, Mr Allaster Cox, Wakil Kepala Misi di Kedutaan Besar Australia di Jakarta menempatkan dukungan kesetaraan gender dari Australia untuk Indonesia dalam konteks kerja sama ekonomi yang lebih luas antara kedua negara, menyoroti Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah ditandatangani pada Maret 2019.

"Sebagai bagian dari perannya sebagai mitra ekonomi Indonesia, Australia mendukung inisiatif untuk kesetaraan gender yang dapat memanfaatkan sumber daya Indonesia sendiri untuk menghasilkan pertumbuhan dan mendistribusikan manfaat kepada lebih banyak orang," kata Cox. (hek/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed