Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 15 Mei 2019 15:16 WIB

Sri Mulyani Waspadai Neraca Dagang yang Tekor ke Ekonomi RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 tercatat defisit US$ 2,5 miliar. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka ini berasal dari ekspor pada April 2019 sebesar US$ 12,6 miliar dan impor US$ 15,1 miliar.

Menanggapi hal tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan defisit neraca perdagangan perlu diwaspadai. Pasalnya, penurunan terjadi di impor dan ekspor yang bahkan lebih dalam.

"Meski impor kontraksi tapi ekspornya juga kontraksi lebih dalam lagi, jadi ini faktor ekspor yang mengalami pelemahan, kita harus waspada," kata Sri Mulyani di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/5/2019).


Dia menjelaskan kemudian yang kedua adalah dari sisi impor mulai dari bahan baku dan bahan modal juga perlu diantisipasi. Karena ini akan digunakan untuk pertumbuhan ekonomi ke depannya.

"Signal ini menggambarkan ekonomi dunia mengalami situasi yang tidak mudah, Indonesia ini kalau ingin tetap menjaga ekonomi di atas 5% dari komposisi pertumbuhannya itu manufaktur akan mengalami tekanan yang cukup dalam. Pertanyaannya apakah sektor lain bisa mem-backup," jelas dia.

BPS menyebutkan kenaikan impor terjadi karena impor migas naik 46,99%, dan non migas naik 7,82%. Menurut Sri Mulyani memang dari sisi volume permintaan terjadi peningkatan.

"Ini akan terus meningkat," jelas dia.


Menurut Sri Mulyani saat ini minyak dan gas produksinya stagnan bahkan lifting minyak tidak terasumsi dengan baik sesuai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"B20 introduce Pertamina sudah mulai melakukan, kemarin impor dari pPertamina cukup besar, apa yang terjadi saya tunggu dari ESDM untuk melihat dari sisi itu," jelas dia.

Dia menyampaikan jika current account atau trade account Indonesia defisit saat ini maka akan berisiko tinggi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed