ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 15 Mei 2019 17:57 WIB

Pemerintah Harus Responsif Hadapi Defisit Neraca Perdagangan

Mustiana Lestari - detikFinance
Foto: Kein Foto: Kein
Jakarta - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengingatkan pemerintah agar responsif terhadap neraca perdagangan yang masih defisit melalui kebijakan hilirisasi dan kreativitas mencari pasar baru.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan pemerintah tidak boleh lengah menghadapi pelebaran defisit neraca perdagangan yang didorong oleh memburuknya harga komoditas, terlebih di tengah penurunan permintaan global dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Jika mengikuti arus yang ada tentunya neraca perdagangan Indonesia akan semakin buruk, oleh karena itu hilirisasi menjadi mutlak agar ekspor tidak lagi bergantung dari bahan mentah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/5/2019).


Terlebih, ekspor menjadi fokus dari Presiden Joko Widodo. Sejak awal pemerintahan, presiden selalu mengingatkan bahwa selain investasi, ekspor merupakan kunci pertumbuhan ekonomi, sehingga pengupayaan peningkatan ekspor merupakan suatu keharusan.

"Seperti apa yang dikatakan presiden, ekspor menjadi penting untuk mendorong perekonomian. Dengan demikian langkah-langkah strategis untuk mendorong ekspor harus dilakukan," ucapnya.

Selain itu, sambung Arif, kinerja ekspor nasional yang naik juga dapat menjadi pendorong bagi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini menunjukkan tren pelemahan.

"Apabila ekspor kita semakin banyak dan semakin luas tentunya tidak hanya neraca perdagangan yang semakin baik, akan tetapi rupiah juga akan semakin perkasa," ujarnya.


Seperti yang diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan April 2019 defisit US$ 2,59 miliar, lebih lebar dari defisit April 2018 sebesar US$ 1,66 miliar. Ekspor April 2019 tercatat US$ 12,6 miliar, menurun 10,80% dari capaian bulan sebelumnya.

Penurunan ekspor April 2019 paling besar disebabkan oleh ekspor migas, baik secara nilai dan volume. Adapun sektor yang menyumbang penurunan ekspor migas ialah pengadaan gas dan pertambangan.

Adapun dilihat berdasarkan negara tujuan ekspor, Singapura menjadi negara terbesar yang mengalami penurunan ekspor yakni sebesar 34,73%. Setelahnya Korea Selatan, India, Jepang, Belanda, Jerman, dan negara ASEAN lainnya.

"Mengacu data tersebut, mungkin sudah ada kejenuhan di pasar-pasar utama tersebut. Dengan begitu solusi lain untuk menggenjot ekspor adalah dengan mencari pasar baru," tutup Arif. (mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com