Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 18 Mei 2019 22:34 WIB

Fadli Zon Sebut Rezim Gagal, TKN: Kacamata Oposisi

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno (Tsarina Maharani/detikcom) Foto: Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno (Tsarina Maharani/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai pemerintah saat ini rezim gagal. Pernyataan ini dia sampaikan lewat akun Twitter miliknya @fadlizon, dengan menyebut sejumlah alasan mulai dari neraca dagang defisit terus hingga utang pemerintah bertambah.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Hendrawan Supratikno, buka suara merespons pernyataan politikus Partai Gerindra itu.

"Fadli Zon melihat ekonomi nasional dalam perspektif ekonomi tertutup dan statis. Perspektif tersebut ditambah dengan kacamata oposisi, sehingga gambaran yang muncul terasa gelap," kata Hendrawan kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (18/5/2019).


Anggapan rezim gagal versi Fadli Zon mengacu pada kondisi ekonomi yang menurutnya buruk. Pertama, neraca perdagangan per April 2019 terparah sepanjang sejarah. Kedua, utang pemerintah yang bertambah Rp 347 triliun selama April 2019 dari April tahun lalu.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 hanya 5,07% atau melambat jika dibandingkan kuartal IV-2018 yang sebesar 5,18%. Keempat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah.

Hendrawan menjelaskan, khusus perekonomian Indonesia di level 5,07% masih lebih bagus dibandingkan negara yang sebanding.

"Memuaskan? Tentu belum, tetapi sudah cukup baik, karena ekonomi bergerak relatif stabil, terkelola," jelas politikus PDI-P itu.

Untuk neraca perdagangan, menurut Hendrawan dikarenakan banyak penyebabnya. Seperti harga komoditas yang fluktuasi dan berdampak pada kinerja ekapor. Sehingga harus dilakukan hilirisasi dalam rangka meningkatkan nilai tambah produk ekspor.


Soal utang pemerintah, pemerintah harus menerapkan manajemen pengelolaan yang hati-hati, namun sejauh penggunaannya untuk hal produktif, transparan, dan akuntabel masih bisa dilakukan.

"Karena akan meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas nasional," kata Hendrawan.

Selanjutnya mengenai nilai tukar, dikatakan Hendrawan telah terjadi sejak Indonesia merdeka. Oleh karena itu, dirinya setuju jika dilakukan penguatan rupiah terhadap dolar AS.

Oleh karena itu, Hendrawan menegaskan perekonomian nasional selama era Jokowi menunjukan perbaikan. Seperti penurunan angka kemiskinan, pengangguran, indeks kerentanan sebagai negara gagal justru Indonesia menguat. Hingga kemudahan bisnis yang terus membaik.

"Sejumlah indeks menunjukkan hal sebaliknya. Nah, yang baik harus terus ditingkatkan," tutur Hendrawan.


Fadli Zon Sebut Rezim Gagal, TKN: Kacamata Oposisi
(hek/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com