Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 28 Mei 2019 21:50 WIB

Istana Buka-bukaan Kondisi Ekonomi Terkini

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Ekonomi Indonesia belakangan ini diterpa beberapa hal yang bisa dibilang tidak menyenangkan, salah satu yang masih membekas adalah tekor neraca perdagangan serta melebarnya defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit (CAD).

Defisit neraca dagang per April menjadi yang paling terdalam atau mencetak rekor baru paling besar sepanjang sejarah. Sedangkan CAD belum lama ini dirilis dan masih melebar. Apakah hal tersebut menandakan ekonomi Indonesia tidak aman?

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan, ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang aman. Hal tersebut terlihat dari CAD yang belum tembus 3% dari produk domestik bruto (PDB).

"Kita memang defisit, namun ukuran ekonomi untuk cek itu berbahaya atau tidak, sudah dibuat selama CAD tidak melampaui 3% dari PDB ya aman," kata Erani saat berbincang dengan wartawan di Jakarta, Selasa (28/5/2019).


Bank Indonesia (BI) defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal I-2019 sebesar US$ 7 miliar atau 2,6% dari PDB. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 9,2 miliar (3,6% dari PDB).

Menurut Erani, angka CAD beberapa tahun belakangan ini juga jauh lebih rendah dibandingkan pada tahun 2012-2013 yang tembus ke level 3%.

"2018 2,8-2,9 % masih lebih rendah dibanding 2012, 2013 yang sentuh 3%. Negara lain bahkan tidak masalahkan sampai 5 persen selama sampai tujuan tertentu," ujar dia.

Mengenai masalah neraca perdagangan, Erani mengungkapkan bahwa pemerintah serius memecahkan persoalan tersebut. Khususnya demi mendorong ekspor yang sering diungkapkan Presiden Jokowi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.


Menurut Erani, ada tiga hal yang dilakukan pemerintah demi membenahi masalah neraca perdagangan. Pertama, meningkatkan kapasitas produksi minyak dengan memperluas investasi pembangunan kilang.

Kedua, pemanfaatan program mandatori biofeul 20% (B20) sebagai bahan campuran Solar. Diharapkan, program ini mampu menekan impor minyak sebagai bahan baku bahan bakar.

Ketiga, memaksimalkan potensi sektor non migas dengan memaksimalkan sumber perekonomian baru di subsektor industri, otomotif, kimia, mamin, petrokimia, elektronik. (hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed