Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 01 Jun 2019 21:05 WIB

Pertamina Laba Rp 35 T Dikritik, Kementerian BUMN Buka Suara

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Danang Sugianto/detikFinance Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Said Didu mengkritik laporan keuangan Pertamina yang mencantumkan laba sekitar Rp 35,9 triliun. Menurut Said keuntungan Pertamina tersebut, naik sekitar Rp 30 triliun selama 3 bulan terakhir tahun 2018.

Dia menilai kenaikan tersebut tidak wajar, dan ternyata setelah ditelusuri laba tersebut berasal dari perhitungan utang pemerintah ke Pertamina sebesar Rp 41,6 triliun dari penugasan pemerintah.

"Utang tersebut akan menjadi perdebatan karena 1) aturan dan perhitungan dibuat tahun 2019 setelah APBN 2018 sudah tutup. 2) utang tersebut tidak tercantum sebagai utang tahun 2018 karena tidak dibahas oleh DPR. Sesuai aturan, setiap rupiah beban APBN harus persetujuan DPR," terang Said Didu dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/6/2019).


Dengan demikian, kata Said, sangat sulit Pertamina untuk menagih utang tersebut, selain tidak ada landasan hukum, juga tidak ada anggaran pembayaran dalam APBN 2018 dan APBN 2019.
"Jika utang tersebut tdk dibayar artinya tahun 2018, Pertamina rugi sekitar Rp 5 triliun," terang Said.

Said menduga, keuntungan PLN 2018 yang diumumkan beberapa waktu lalu juga mengalami kondisi serupa. Selain itu, kata Said, model memasukkan piutang yang tidak pasti juga terjadi pada laporan keuangan Garuda sehingga dibuat untung.

Menanggapi kritik Said Didu tersebut, Kementerian angkat bicara.


Menanggapi hal tersebut Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menjelaskan piutang dalam laporan keuangan sebuah perusahaan adalah hal yang biasa.

"Piutang itu biasa saja, kan pencatatannya berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) itu normal sekali. Jadi kalau ada kontrak kemudian belum dibayar akan dicatat sebagai piutang maka di dalam neraca itu sudah terjadi," kata Fajar di Kementerian BUMN, Jakarta, Sabtu (1/6/2019).

Dia menjelaskan tak hanya Pertamina yang melakukan hal tersebut, seluruh perusahaan juga melakukan karena memang dibolehkan.

"Pak Said Didu bisa baca lagi APBNnya daripada ribut. Selama ini kan pemerintah juga mencicil sejak zamannya pak Said Didu juga sama tuh seperti itu, dicatat ya," ujarnya. (kil/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed