Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 06 Jun 2019 12:35 WIB

Lagi 'Panas' dengan China, AS Mau Jual Senjata ke Taiwan Rp 28 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Nadia Permatasari/Infografis Ilustrasi/Foto: Nadia Permatasari/Infografis
Jakarta - Amerika Serikat (AS) saat ini sedang membidik target penjualan tank dan senjata senilai lebih dari US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,4 triliun (kurs Rp 14.200/US$) ke Taiwan. Mengutip Reuters, sumber menjelaskan langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memancing kemarahan Cina akibat makin memanasnya perang dagang.

Penjualan senjata antara lain tipe 108 General Dynamics Corp M1A2 Abrams tank yang dilengkapi dengan amunisi pendukung. Taiwan memang tertarik memperbarui persediaan senjata untuk perang buatan AS.

Sekedar informasi, AS merupakan pemasok senjata terbesar ke Taiwan. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menjelaskan pada Maret lalu AS menanggapi positif permintaan Taiwan untuk pembelian senjata model baru untuk pertahanan Taiwan dari Cina.


Meskipun AS dan Taiwan tak memiliki hubungan formal namun permintaan senjata tetap dipenuhi oleh AS. Tegangnya perdagangan antara AS dan Cina diperparah dengan bentrokan Taiwan dan Laut Cina Selatan.

Sumber di Departemen Luar Negeri AS menjelaskan ada pemberitahuan terkait penjualan alat perang tersebut diantaranya 409 Raytheon Co, rudal Javelin buatan Lockheed Martin Corp senilai US$ 129 juta. Kemudian informasi penjualan 1.240 TOW rudal senilai US$ 299 juta dan 250 rudal US$ 223 juta.

Sementara itu Kementerian Pertahanan Taiwan telah meminta jika proses permintaan senjata tersebut dilakukan secara normal. Komitmen AS untuk menyediakan senjata ini diharapkan bisa membantu militer Taiwan untuk meningkatkan kualitas tempurnya, konsolidasi Taiwan AS hingga keamanan Taiwan. Hingga berita ini ditulis tak ada tanggapan resmi dari pemerintahan Cina.


Sebelumnya Presiden AS Donald Trump melakukan revisi aturan ekspor senjata dari AS ke luar negeri. Hal ini dilakukan agar AS bisa semakin memperluas sekuriti dengan negara lain. Selain itu juga diharapkan bisa meningkatkan industri pertahanan AS dan menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. (kil/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed