Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 20 Jun 2019 10:40 WIB

Soal Perang Dagang, Dubes China: AS yang Mulai

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Genderang perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok alias China kembali bergemuruh. Setelah sempat mereda, beberapa waktu lalu keduanya saling menebar ancaman.

Kubu Donald Trump menuding pihak China memperkeruh perundingan yang berjalan. AS melancarkan serangan dengan mengenakan tarif bea masuk barang dari Cina sebanyak US$ 300 miliar. China pun membalas dengan kenaikan tarif pada daftar revisi US$ 60 miliar barang AS.

Dalam wawancara khusus dengan detikFinance beberapa waktu yang lalu, Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian menegaskan bahwa apa yang dilakukan AS memicu gesekan dan merugikan kedua belah pihak. Dia juga menekankan bahwa AS yang memulai peperangan terlebih dahulu.

"Tindakan AS memicu gesekan perdagangan dengan Tiongkok merugikan kepentingan kedua negara sekaligus merugikan kepentingan seluruh dunia. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, AS adalah pihak yang pertama-tama memicu konflik perdagangan ini, bukan Tiongkok," ujarnya.


Menurut Xiao AS yang menjadi pihak pertama melancarkan serangan dengan menaikkan tarif impor produk adalah AS bukan China. China dinilainya hanya membalas apa yang telah dilakukan AS.

"AS adalah pihak yang berulang kali bersiasat melancarkan tekanan ekstrem, bukan Tiongkok. AS adalah pihak yang terus maju-mundur dan tidak mengedepankan itikad baik dalam perundingan, bukan Tiongkok," tambahnya.

Bagi pihak China, pemerintah AS yang sepenuhnya bertanggung jawab untuk kemunduran besar dalam negosiasi dagang antara kedua negara. Sementara apa yang dilakukan pihak Tiongkok menurut Xiao adalah respon atas perlakuan AS dan sepenuhnya upaya membela diri.

"Sikap Tiongkok ini adalah demi melindungi kepentingan Tiongkok sendiri yang legal dan sah, sekaligus untuk melindungi paham multilateralisme dan sistem perdagangan bebas," kata Xiao.

Dia menilai hubungan dagang antara AS dan Tiongkok sebenarnya sangat penting bukan hanya bagi kedua negara tapi juga dunia. Sebab keduanya merupakan ekonomi terbesar dunia dan bisa menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi dunia.

"AS seharusnya bermitra dengan Tiongkok untuk bersama mengemban tanggung jawab memajukan pertumbuhan ekonomi global. Namun AS justru bertindak semaunya sendiri, dan secara sepihak memicu perang dagang. Ketika Tiongkok mengutamakan niat baik dalam perundingan, AS justru berulang kali mengkhianati kesepahaman yang telah dicapai bersama, dan secara sepihak menaikkan tarif impor terhadap Tiongkok," tuturnya.

Xiao pun menekankan Tiongkok sebenarnya tidak ingin berperang, namun negaranya juga tidak takut berperang dan siap berperang apabila terpaksa. Tiongkok berharap AS memahami situasi dan kembali pada perdamaian.



Tonton video Dampak Perang Dagang, China Bakal Batasi ''Tanah Jarang'' untuk AS:

[Gambas:Video 20detik]


Soal Perang Dagang, Dubes China: AS yang Mulai
(das/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed