Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Jun 2019 13:11 WIB

KEIN Siapkan Peta Jalan Industri Kreatif untuk 2045

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Dok. KEIN Foto: Dok. KEIN
Jakarta - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) sedang mempersiapkan roadmap industri kreatif Indonesia hingga 2045. Rapat bersama lintas sektor digelar KEIN pada Rabu (19/6) yang langsung dipimpin Ketua KEIN Soetrisno Bachir setelah Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar peta jalan tersebut segera dibuat.

"Roadmap industri kreatif ini sangat penting karena potensi besar Indonesia. Industri kreatif tumbuh pesat dibarengi dengan bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif bakal sangat besar yang akan melesatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Soetrisno Bachir dalam keterangannya, Kamis (20/6/2019).

Ikut hadir dalam rapat tersebut, Sekretaris KEIN Putri Wardani, Ketua Pokja Industri Kreatif Irfan Wahid, dan Ketua Pokja Industri Pedesaan Aries Muftie.

Irfan Wahid mengatakan, industri kreatif sering disebut sebagai industri masa depan Indonesia. Penyebutan ini tak salah. Sebab, industri tersebut berhasil berkontribusi sebesar Rp 1,009 triliun terhadap PDB Indonesia pada 2017 lalu.

"Industri ini telah menyerap angka tenaga kerja sebanyak 17,43 juta tenaga kerja Indonesia, dan masih akan tumbuh pesat lagi. Dengan potensi sebesar ini, kita perlu tahu di mana kita bisa melakukan optimasi. Di mana bottlenecking atau sumbatan yang perlu kita buka agar semakin pesat lagi pertumbuhannya," kata Irfan Wahid.

Apalagi, kata Irfan, perilaku konsumen semakin mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif yang beririsan dengan ekonomi digital. Pada 2016 lalu, misalnya. Sebanyak 63,5% pengguna internet bertransaksi melalui online.


Dia mengatakan, dalam rapat tersebut dibagas detail mengenai beberapa aspek yang menjadi tantangan bangsa ini ke depan. Yakni, sumber daya manusia (SDM), literasi digital, hingga sinergi antara kementerian dan lembaga serta sektor usaha.

"SDM menjadi sangat penting karena kita jelas mulai tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Salah satu yg bisa jadi prioritas misalnya adalah peremajaan SMK berbasis industri kreatif. Kita juga akan bahas tentang pola pikir kreatif melalui interactive learning yang harus ditanamkan sejak dini. Karena ini akan berimbas kepada inovasi," katanya.

Literasi digital, kata Irfan, tentu tak akan lepas dari beberapa aspek. Mulai dari disrupsi di hampir semua sektor, hingga kemunculan artificial intelligence, bitcoin, cryptocurrency, virtual reality, dan lain-lain. "Sinergi antar lembaga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berhubunhan dengan sektor ekonomi kreatif," katanya.

Sementara untuk sektor kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini. Misalnya menciptakan usaha berbasis kolaborasi atau sharing economy yang sekarang terus direplikasi sektor-sektor lain setelah sukses di sektor transportasi. "Kita harus menanamkan paham sharing economy," katanya.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com