Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 30 Jun 2019 12:33 WIB

Liputan Khusus Piringan Hitam Masih Eksis

Masih Eksis, Begini Geliat Bisnis Musik Jadul di Jakarta

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Geliat Bisnis Pernak-pernik Musik Jadul (Trio Hamdani/detikFinance) Foto: Geliat Bisnis Pernak-pernik Musik Jadul (Trio Hamdani/detikFinance)
Jakarta - Bisnis barang bekas seperti piringan hitam atau vinyl dan kaset pita yang biasa di putar di perangkat radio masih eksis hingga kini walau band maupun penyanyinya barangkali sudah pensiun bahkan tutup usia.

Geliat bisnis musik jadul ini bisa dilihat potretnya di Blok M Square, Jakarta Selatan. Tepatnya di lantai basement banyak toko yang menjual piringan hitam dan kaset pita. Salah satu penjual piringan hitam di Blok M, Gunawan menceritakan bahwa bisnis ini sempat nyaris pudar.

Kala itu internet belum begitu menonjol. Tidak banyak akses untuk membeli peralatan pemutar piringan hitam atau phonograph secara online. Baru pada 2014 akses untuk mencari perangkat pemutar piringan hitam semakin mudah.

"Masa-masa itu kan sudah ada android gampang lah, ternyata jarum stylus ini selama ini dibilang punah ternyata ada di luar negeri, banyak dan murah, dimulai lah jualan lagi. Orang kan berpikir ini alat kuno, padahal tiap tahun dia (produsen) keluarin yang baru, sampai sekarang," katanya saat berbincang dengan detikFinance di tokonya, ditulis Minggu (30/6/2019).


Tak hanya orang tua yang menikmati musik dari piringan hitam, anak-anak muda pun banyak yang menggemarinya. Biasanya anak-anak muda kecenderungannya menikmati musik-musik disko judul.

Dia yakin, musik-musik jadul dari piringan hitam tidak akan pernah kehilangan penikmatnya. Biar kata ketinggalan zaman, musik jadul tetap punya tempat tersendiri di hati masyarakat.

"Kalau musik sih memang nggak akan pernah berhenti, ada saja pasti," tambahnya.

Penjual piringan hitam di Jalan Surabaya Kawasan Menteng, Jakarta Pusat bahkan mengatakan dari tahun ke tahun bisnis piringan hitam malah makin melejit. Tahun 2000an peminatnya bahkan lebih banyak dibandingkan tahun 90an.

Sampai-sampai anak kecil pun ada yang gemar mendengar musik dari piringan hitam. Hal itu dia ungkapkan karena pernah suatu ketika orangtua mengantarkan anaknya membeli piringan hitam ke tokonya.

"Kalau 90an belum (terkenal). Justru tahun 2000an sampai-sampai anak SMP yang ngerti dia mendingan pakai piringan hitam, karena sering benar orangtuanya antarin anaknya ke sini," jelasnya.

Hingga kini pun dia akui geliat bisnis piringan hitam masih cemerlang. Kini harga piringan hitam bertambah mahal karena semakin langka.

"Makin naik terus vinyl, makin mahal. Justru sekarang yang banyakan diburu lagu-lagu Indonesia, lebih langka karena sudah dibawa-bawain ke luar, sama orang-orang bule tuh, jadi langka," tambahnya.


Demikian pula bisnis kaset pita yang biasa diperdengarkan lewat perangkat radio. Kaset-kaset pita ini sama langkanya dengan piringan hitam, sementara yang mencarinya banyak. Tak ayal kaset pita jadul menjadi barang buruan.

"Karena kaset kan sudah susah, sudah nggak diproduksi kaset itu. Yang kedua toko kaset kan sudah nggak ada makanya saya lihat peluangnya di situ," ujarnya saat berbincang di tokonya, Blok M Square.

Kelancaran bisnis ini menurutnya bergantung pada ketersediaan barang yang sedang diburu di pasaran. Oleh karenanya, penjual kaset pita seperti dia pun harus jeli mencari barang.

"Kalau barang bagus ada, kita kencang duitnya tapi kalau barang nggak ada kita pintar-pintar cari barang saja," tambahnya.

Simak Video "Koleksi Piringan Hitam Lokananta Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com