Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 07 Jul 2019 12:09 WIB

Liputan Khusus Penjaga Tol Diganti Robot

Cerita Mantan Penjaga Gerbang Tol yang Jadi Buruh Pabrik

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Ilusrasi Penjaga Gerbang Tol/Eduardo Simorangkir-detikFinance Foto: Ilusrasi Penjaga Gerbang Tol/Eduardo Simorangkir-detikFinance
Jakarta - Dampak kebijakan penerapan transaksi non tunai di gerbang tol seluruh Indonesia juga memiliki efek samping. Salah satunya memberikan dampak signifikan bagi pegawai sebagai penjaga gerbang tol.

Padahal klaim beberapa perusahaan jalan tol seperti PT Jasa Marga (Persero) dan PT Astra Infra Toll Road memberikan program pengalihan bagian pekerjaan.

detikFinance mendapat kesempatan untuk mewawancarai mantan petugas gerbang tol dan yang masih bekerja yaitu Taufik Ferdiyanto. Dia adalah mantan pegawai PT Jakarta Lingkar Barat Satu, yang berada di ruas JORR W1 yang menghubungkan Kebon Jeruk JORR W2 dan Jakarta-Tangerang ke Jalan tol Bandara Sedyatmo.


Dia mengaku pada saat kebijakan transaksi non tunai mau diberlakukan, pihak manajemennya sudah memindahkan beberapa petugas penjaga gerbang tol ke bagian pekerjaan yang masih kosong.

"Kaya ke bagian admin, keuangan, ke bagian pengamanan lalu lintas, ke bagian sentral komunikasi," jelas Taufik kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Hingga pada Oktober 2017 atau tepat saat transaksi non tunai berlaku 100% di seluruh Indonesia, pihak manajemen pun membuat kebijakan dengan klasifikasi yang sudah ditetapkan.

Sehingga, bagi penjaga tol yang terkena dampak kebijakan transaksi non tunai menjadi kompetisi untuk siapa yang layak bertahan atau tidak.

"Kaya semacam kompetisi. Siapa yang berhak bertahan siapa yang tidak," kata dia.

Kebetulan, pada saat itu, dirinya dan tujuh rekan kerjanya dipindah ke bagian lain yang masih berada di gerbang tol, yaitu sebagai teknisi. Menurut dia, tugasnya pada saat itu untuk maintenance atau perawatan sistem gerbang tol.

Seiring waktu berjalan, kata Taufik, pihak manajemen pun menerapkan sistem penilaian kinerja bagi seluruh pegawai yang ada di gerbang tol. Apalagi untuk pegawai gerbang tol di Jakarta Lingkar Barat Satu statusnya kontrak.

Untuk mendapatkan perpanjangan kontrak, pihak manajemen menilai dari sisi kinerja. Menurut Taufik, pada saat itu delapan orang termasuk dirinya tidak diperpanjang lantaran kinerja dianggap kurang kompeten.

"Yang 8 orang itu nggak semua teknisi gerbang, ada 2 orang yang bagian operator. Pokoknya yang menurut perusahaan kinerjanya menurun ya nggak bisa diterusin lagi kerjanya," jelas dia.

Hingga saat ini, dirinya mengaku masih menganggur alias mencari pekerjaan yang sesuai keinginannya. Namun, beberapa temannya sudah ada yang bekerja sebagai buruh pabrik.

"Saya masih nganggur, masih cari kerja yang pas sama hati saya. Makanya kenapa saya masih nganggur. Teman saya mah udah pada kerja, ada yang di pabrik ada yang di perusahaan juga," ujar dia.


Sementara itu, Bobby salah satu pegawai Jasa Marga Tollroad Operator (JMTO) mengaku tidak terdampak sama sekali. Bahkan, banyak teman-temannya harus mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan pegawai Jasa Marga.

Menurut Bobby, kebijakan transaksi non tunai di gerbang tol lebih berdampak pada pegawai organik induk usaha dalam hal ini Jasa Marga.

"Kalau karyawan organik Jasa Marga memang ada perubahan, ada juga yang pindah ke anak perusahaan. Nah karena ada yang pensiun itu, teman-teman saya di pindah-pindah lah untuk mengisi yang kosong," kata Bobby.

Bobby menjelaskan, pegawai Jasa Marga ada yang pensiun dini dikarenakan memang manajemen induk memiliki program pasca transaksi non tunai.

Adapun, program tersebut diberi nama Alife. Pertama pindah menjadi staf di kantor pusat. Kedua, pindah menjadi staf di kantor cabang. Ketiga, menjadi pegawai di anak usaha. Keempat, menjadi wiraswasta di rest area jalan tol milik perseroan. Kelima, pensiun dini.

Menurut Bobby, di gerbang tol milik Jasa Marga pun masih menyisakan beberapa pegawai tetap induk usaha. "Cuma sedikit, seperti yang di Cililitan itu masih ada karyawan organiknya," jelas dia.

Corporate Secretary Jasa Marga Agus Setiawan mengatakan untuk pegawai organik yang mengambil pilihan pensiun dini pun mendapat kesempatan menjadi wiraswasta dan bisa mengisi tenant UKM yang tersedia di rest area atau tempat pemberhentian sementara.

"Untuk yang akan ambil pensiun awal diberikan pelatihan, diberi insentif tambahan atas uang pensiun yang diterima. Salah satunya, setelah pensiun jadi tenant/berusaha di rest area, dan ada yang usaha lainnya," jelas Agus.

Simak Video "Mindar, Robot Pendeta Buddha dari Jepang"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com