Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 14 Jul 2019 09:23 WIB

Masih Ada Rupiah di Balik TV dan Radio Jadul

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta - Dalam satu bukunya berjudul Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer menuliskan agar berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri. Mungkin, itulah cerminan hidup yang dijalani oleh Nano Sukarno, si tukang reparasi televisi (tv) lawas alias jadul.

Reparasi tv jadul bukan lagi jasa yang gampang ditemui sekarang ini, apalagi di Jakarta. Mungkin hanya ada beberapa yang masih bertahan untuk menggantungkan hidup sebagai tukang memperbaiki tv jadul tersebut, termasuk Nano Sukarno.

Pria yang akrab disapa Nano itu ditemui detikFinance di kawasan Jalan Masjid Al-Huda 12, Kebayoran Lama, Jakarta, pada Jumat lalu. Tempat usahanya itu tak jauh dari Stasiun KRL Kebayoran, tepatnya di kawasan jual-beli barang bekas dekat trotoar jalan.

Kawasan tersebut sedang ramai dipenuhi orang-orang yang baru selesai ibadah Salat Jumat. Sementara Nano sedang sibuk berada di dalam kiosnya. Ia sedang mengutak-atik perkakasnya untuk memperbaiki mesin tv tabung yang sudah dibongkar.

Di tempat yang berukuran 3x6 meter itu, kios Nano dipenuhi berbagai macam tv tabung yang terbilang jadul. Tv-tv yang sudah tak diproduksi itu ditumpuk-tumpuk menjadi satu hingga mencapai atap kios. Cuma ada setengah lantai yang tersisa di bagian tengah untuk jalan masuk ke dalam.

Jasa Reparasi Tv JadulJasa Reparasi Tv Jadul Foto: Fadhly Fauzi Rachman

Nano memiliki tampilan yang cukup rapi sebagai tukang reparasi tv jadul. Saat ditemui, dia memakai peci, kemeja lengan pendek, dan celana bahan panjang. Nano masih tampak bugar di usia yang hampir 60 tahun tersebut.

Intonasi bicaranya cukup pelan dan halus. Namun saat ucapannya tidak terdengar, Nano bersedia mengulangi kalimatnya. Nano tampak seperti orang yang selalu positif dalam memandang sesuatu. Di selalu melontarkan kalimat syukur setiap menjawab pertanyaan.

Berbekal keahlian dari Sang ayah yang juga tukang reparasi, Nano menempuh jalan hidup yang sama sebagai tukang reparasi tv tabung sejak puluhan tahun.

"Saya dari tahun 1985 di sini, sampai sekarang lah alhamdulillah. Itu nggak pindah, di sini saja dekat stasiun," ujarnya. Sebelumnya, pria berkumis asal Kuningan itu juga sudah membuka usaha di kampung asalnya. Dia hijrah ke Jakarta untuk mencari peruntungan yang lebih baik setelah menikah.

Nano mengatakan pelanggannya kini merupakan kalangan menengah ke bawah. Nano mengaku pesanan jasanya tak seramai dulu, apalagi dengan berkembangnya teknologi saat ini. Tv-tv modern nan tipis mulai merajai pasar. Tv-tv tabung nan jadul sudah banyak yang tak diproduksi.

Meski begitu, Nano masih terus bertahan membuka jasa reparasi tv tabung hingga saat ini.

"Jadi ya pasang surut. Sekarang alhamdulillah standar (konsumennya). Kalau baru-baru masuk tv panel, lcd, ya itu agak turun. Menurun drastis. Paling nggak ada satu pelanggan lah setiap hari, itu sudah standar. Yang penting kita buat dapur ngebul saja," katanya seraya tertawa.

Nano mematok tarif jasa service tergantung dari kondisi tv yang diperbaiki. Bila kerusakannya standar atau tergolong ringan, ia memasang tarif Rp 75.000 untuk tv ukuran 14 inchi. Sementara untuk kerusakan yang lumayan berat tarifnya Rp 100.000.

"Kalau ganti semua satu blok, kalau mereka rada keberatan, mereka beli bahannya sendiri, kita yang pasang. Kalau yang 21 inchi ya Rp 100.000-120.000 lah jasa service. Segitu sudah standar lah insyaallah," katanya.

Bukan hanya jasa reparasi, Nano juga menjual tv-tv tabung jadul yang telah diperbaiki. Biasanya, ada orang yang menjual tv tabung ke dirinya. Tv itu lantas dipoles kembali oleh Nano dan dijual lagi dengan harga miring.

Nano mengatakan, saat ini sejatinya tv tabung masih diminati sejumlah kalangan. Terutama kalangan menengah ke bawah. Tv tabung, dinilai memiliki kekuatan yang lebih baik dibanding tv lcd atau tv berteknologi canggih lainnya. Lebih tahan lama. Hal itu lah yang membuat Nano percaya bahwa bisnisnya bisa terus bertahan.

"Mereka yang pakai tv tipis mungkin kekuatannya nggak kayak tv tabung ya. Tv tabung masih andal-andal. Masih kuat, jadi masih ada saja pelanggan. Makanya saya masih buka usaha ini," kata Nano.


Tak jauh dari kios milik Nano, jasa reparasi alat jadul juga ditemui di kawasan Stasiun Kebayoran. Pemiliknya bernama Suhandi, ia membuka jasa reparasi radio jadul.

Suhandi membuka jasa reparasi radio sejak tahun 1995, dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kini, ia membuka jasanya dekat Stasiun Kebayoran. Cukup strategis karena di kawasan jual beli barang bekas.

Suhandi bercerita, dirinya mengalami pasang surut dalam bisnis reparasi ini. Semakin ke sini, pengguna jasanya semakin sedikit. Radio, terutama radio jadul memang sudah jarang digunakan orang-orang. Kini, banyak bermunculan alat pemutar musik digital, bahkan orang-orang lebih memilih memutar lagu lewat handphone canggih masing-masing.

Meski begitu, kata Suhandi, ia memiliki segmentasi pelanggan yang masih menggunakan radio jadul. Sama seperti Nano, pelanggan Suhandi ialah kalangan menengah ke bawah, terutama orang-orang yang sudah lanjut usia.

"Ibaratnya radio ini sudah ada penikmat khusus, kebanyakan orang tua. Kalau yang muda-muda sudah jarang yang pakai," katanya.

Berbeda dengan Nano yang masih bisa mendapatkan pelanggan setiap hari, Suhandi mengaku kesulitan. Tak setiap hari Suhandi bisa mendapat pelanggan untuk menggunakan jasanya. Karena itu, Suhandi juga mengerjakan reparasi alat elektronik lainnya seperti kipas angin, hingga setrika pakaian untuk memperbanyak peluang penghasilan.

"Seminggu paling 3 sampai 4 pelanggan, sudah jarang sekarang. Saya juga sekarang kalau ada yang butuh radio, bisa saya jual. Kan banyak yang nganggur di sini," katanya.

Suhandi memasang tarif atas jasanya berkisar Rp 25.000 hingga Rp 40.000. Dia mengaku dalam sebulan paling tidak mendapatkan pemasukan Rp 1-2 juta. Semua itu didapat dari jasanya memperbaiki radio, kipas, hingga setrika pakaian.

"Yang penting ada pemasukan, karena saya cuma bisa bidang begini doang, di alat-alat listrik elektronik. Selama masih bisa untuk makan keluarga, ya dikerjain aja lah," kata Suhandi sembari tertawa.

Jasa Reparasi Radio JadulJasa Reparasi Radio Jadul Foto: Fadhly Fauzi Rachman



Masih Ada Rupiah di Balik TV dan Radio Jadul


Simak Video "Lenggak-lenggok Sri Mulyani Tirukan Gerakan Tarian Anak STAN"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed