Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 16 Jul 2019 17:20 WIB

Beras hingga Babi Jadi Produk Ekspor Unggulan RI dari Perbatasan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Ilustrasi/Foto: detik Ilustrasi/Foto: detik
Jakarta - Beberapa wilayah perbatasan Indonesia punya komoditas unggulan untuk diekspor ke negara tetangga. Salah satunya Jahe dari Kalimantan Utara yang dapat diekspor ke Malaysia, dan juga babi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua yang dapat diekspor ke Timor Leste dan Papua Nugini.

Selain wilayah tersebut, Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau (Kepri) juga punya komoditas unggulan untuk diekspor. Sehingga, ada lima wilayah perbatasan yang sedang menjadi fokus pemerintah untuk melakukan ekspor ke negara tetangga.

"Di perbatasan kita fokus di lima lokasi termasuk Timor Leste, kemudian Merauke ke Papua Nugini, kemudian Kalimantan dengan Malaysia, Kepri dengan Singapura, kita fokus disana. Tentunya yang akan kita kembangkan adalah komoditas-komoditas yang pertama adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di perbatasan itu sendiri, dan kedua komoditas yang punya pasar di internasional," ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi dalam diskusi pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan di wilayah perbatasan Indonesia, di Jakarta, Selasa (16/7/2019).


Secara rinci, Kalimantan Barat punya komoditas unggulan untuk diekspor seperti cabai, buncis, tomat, terung, kacang panjang, ketimun, dan komoditas khasnya beras raja uncak. Lalu, Kalimantan Utara dengan komoditas seperti durian, jahe merah, sereh dapur, dan komoditas khasnya beras adan. Kedua wilayah tersebut sangat berpotensi untuk melakukan ekspor ke Malaysia dan juga Brunei Darussalam.

Selanjutnya, Kepulauan Riau yang berpotensi mengekspor nanas, kelapa, cengkeh, dan sayuran segar ke Singapura. NTT memiliki potensi untuk mengekspor bawang merah, daging sapi, dan babi ke Timor Leste. Terakhir, Papua yang memiliki komoditas unggulan untuk diekspor seperti, ubi jalar, kopi, kakao, buah merah, dan babi ke Papua Nugini.

Agung mengatakan, wilayah perbatasan tersebut mampu mengekspor komoditas yang memang produksinya surplus. Namun, kelima wilayah tersebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan pangannya secara keseluruhan.

"Yang jelas sudah ada yang ekspor ke Timor Leste, ke Papua Nugini, artinya kalau dia sudah ekspor dia sudah bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Bukan pangan secara keseluruhan, tetapi dia sudah surplus produkisnya. Jadi dia jual keluar. Kita sekarang coba melihat supaya mereka bisa memproduksi lebih beragam lagi, jadi bisa memenuhi semua kebutuhan," kata Agung.


Selain lima wilayah yang merupakan perbatasan darat Indonesia dengan negara tetangga, Indonesia juga memiliki wilayah perbatasan laut yang berpotensi untuk melakukan ekspor ke 6 negara lain seperti Vietnam, Thailand, India, Australia, Filipina, dan Palau.

"Kita ini sebenarnya memiliki batas darat dengan tiga negara yaitu Malaysia (Kalimantan) dengan Timor Leste (NTT) , dan antara Papua dengan Papua Nugini. Tetapi kalau batas laut kita mencakup ada 8, di antaranya Vietnam, Thailand, India, Australia, Singapura, Malaysia, Filipina dan Palau," ungkap anggota Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Sinis Munandar.

Namun, Agung menegaskan, saat ini pemerintah akan fokus pada 4 negara tersebut yakni Malaysia, Singapura, Timor Leste, Papua Nugini.

"Sementara pasarnya dia dulu. Jadi untuk program menjadikan lumbung pangan untuk ekspor itu ke depan," pungkas Agung.


Beras hingga Babi Jadi Produk Ekspor Unggulan RI dari Perbatasan
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com