Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 17 Jul 2019 19:24 WIB

Neraca Dagang Surplus, RI Pacu Ekspor ke Negara Non Tradisional

Hendra Kusuma - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia berhasil mencetak surplus. Tercatat pada Juni 2019 surplus US$ 200 juta. Bahkan, defisit dagang dengan China pun mengalami penurunan.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Erani Yustika mengatakan ada beberapa upaya untuk mempertahankan bahkan meningkatkan surplus neraca perdagangan salah satunya dengan memperluas jangkauan ekspor ke negara non tradisional.

"Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memacu ekspor dengan memperluas jangkauan ekspor nasional," kata Erani kepada detikFiance, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Aksi Kementerian Perdagangan memperluas langkah perdagangan pun sudah ada yang membuahkan hasil. Dia menceritakan, Indonesia sudah memperluas ekspor ke negara non tradisional seperti Bangladesh, Turki, Kanada, dan Selandia Baru.


Untuk tahun ini, lanjut Erani, pihak Kementerian Perdagangan juga akan memperluas pasar ekspor ke Afrika dengan menandatangani 12 perjanjian.

"Tiga di antaranya merupakan target pasar baru sejak 2018, yakni Mozambik, Tunisia, dan Maroko. Selain dengan beberapa negara di Afrika, pemerintah juga memacu perdagangan dengan Iran dan Turki," ujar dia.

Langkah selanjutnya, kata Erani, yang bisa membuat kinerja ekspor Indonesia adalah dengan memacu kinerja sektor industri.

"Peranan produk industri terhadap nilai ekspor semakin meningkat dan mencapai di atas 70% pada 2018," jelas dia.

Agar terus meningkat, lanjut Erani, Kementerian Perindustrian sebagai anggota Komite Penugasan Khusus Ekspor (KPKE) harus mendorong dari sisi pembiayaan lewat Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Menurut dia, hal ini sangat penting karena penetrasi pasar ekspor akan sangat bergantung dari daya saing produk terutama harga. Lewat pembiayaan murah, ekspor produk Indonesia mampu bersaing dengan produk dari negara lain.

Neraca perdagangan Indonesia periode Juni 2019 tercatat surplus US$ 200 juta. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut surplus ini terjadi karena nilai ekspor pada Juni 2019 tercatat US$ 11,78 miliar dan impor US$ 11,58 miliar.


BPS juga mencatat impor Indonesia turun US$ 2,95 miliar sepanjang Juni 2019 dibanding Mei 2019. Impor pada bulan Juni tercatat sebesar US$ 11,58 miliar.

Berdasarkan negaranya, impor dari China tercatat turun paling dalam. Impor dari China tercatat turun US$ 1,04 miliar. Kemudian disusul Malaysia yang turun US$ 190 juta, dan Brasil yang turun US$ 177 juta.

Sementara impor dari Jepang, Australia dan Singapura tercatat meningkat sepanjang Juni 2019. Impor dari Jepang meningkat US$ 82,8 juta, dari Australia meningkat US$ 67,9 juta, dan dari Singapura bertambah US$ 36,5 juta lebih banyak dari bulan sebelumnya.

"Intinya Presiden ingin kinerja perdagangan diperbaiki, baik dengan jalan meningkatkan ekspor ke negara tradisional maupun non-tradisional dan mengendalikan impor, salah satunya dengan cara menginisiasi industri substitusi impor," ungkap dia. (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com