Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 18 Jul 2019 21:10 WIB

Mengkhawatirkan! Utang AS Dekati US$ 70 Triliun

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Dok. Anadolu Agency Foto: Dok. Anadolu Agency
Jakarta - Kebijakan pinjaman dengan bunga rendah dan bertambahnya nominal utang memacu laju ekonomi dan bursa saham di Amerika Serikat (AS) selama satu dekade belakangan ini. Namun, langkah tersebut bisa menjadi bumerang bagi AS jika tidak diimbangi dengan ketahanan ekonominya. Apalagi, beban utang negara yang dipimpin Donald Trump itu akan mencapai rekor.

Mengutip CNN, Kamis (18/7/2019), berdasarkan penelitian Institute of International Finance, total utang sektor publik dan swasta AS hampir mencapai US$ 70 triliun pada kuartal I-2019. Utang pemerintah negeri Paman Sam dan swasta tidak termasuk bank sudah mencapai posisi tertinggi.

Sebenarnya, utang itu bukan sesuatu hal yang buruk. Dengan utang atau pinjaman dapat membantu pemerintah dan dunia usaha bisa tumbuh. Contohnya, mendanai proyek yang berdampak baik bagi perekonomian.


Saat ini, AS masih bisa mengatasi masalah beban utang dengan aksi The Fed yang ingin memangkas suku bunga dan membuat utang menjadi lebih murah.

Akan tetapi, ada tiga alasan yang membuat utang AS mengkhawatirkan, yaitu kinerja fiskal yang memburuk. Data ekonomi AS belakangan ini mengalami perlambatan, salah satunya dari kinerja manufaktur. Hal itu dampak dari perang dagang yang sampai saat ini masih bergulir.

AS masih menjadi negara yang paling menarik untuk urusan investasi, akan tetapi utang negara menjadi taruhannya bagi para investor. Banyaknya investor yang betah ke AS membuat masalah utang ini menjadi tidak mudah diselesaikan.

Pasalnya, pemerintahan AS tidak bisa menarik utang karena terganjal batas rasio yang telah ditetapkan. Pemerintah AS tengah berupaya meningkatkan batas rasio saat kongres nanti. Jika tidak berhasil akan terjadi kekacauan pada perekonomian global.

AS memiliki banyak utang untuk dibayar kembali atau jatuh tempo. Dilaporkan bahwa defisit anggaran melonjak lebih dari 23% antara Oktober dan akhir Juni, melebar sekitar US$ 750 miliar.

Selain itu, ada hubungannya dengan utang swasta. Situasi utang korporasi AS tidak jauh lebih baik. Terjadi peningkatan rasio ke posisi terbaru. Berdasarkan IIF, ada di level 74% dari PDB.

Langkah The Fed memotong suku bunganya ada positif dan negatifnya. Positifnya, akan meringankan beban korporasi, sedangkan negatifinya akan membuat korporasi yang rekam jejak kreditnya bobrok masih bisa menarik utang.

Selain itu, keuntungan yang didapat korporasi AS juga diperkirakan menurun pada kuartal II atau penurunan berturut-turut untuk kedua kalinya.

"Tumbuhnya kekhawatiran tentang prospek pendapatan menggarisbawahi risiko bagi perusahaan dengan leverage tinggi," tulis para analis.


Kekhawatiran mengenai utang AS juga tercermin dari neraca pinjaman global yang hampir 320% dari PDB atau sekitar US$ 246 triliun. Itu artinya, secara keseluruhan meminjam lebih dari kemampuannya.

Hal ini berisiko kepada negara-negara berkembang, apalagi kondisi global tidak mendukung yang membuat negara dengan keterbatasan likuiditas membayar utang jatuh tempo.

"Upaya pengurangan utang dan menyalakan kembali kekhawatiran tentang hambatan jangka panjang untuk pertumbuhan global," kata IIF. (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed