Mau Mulai Bisnis Sarang Burung Walet? Baca Dulu Tipsnya di Sini

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 19 Jul 2019 15:57 WIB
Foto: Istimewa/Reuters/Olivia Harris
Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) baru saja melepas ekspor sarang burung walet (SBW) ke China. China memang pembeli terbesar SBW di Indonesia. Lalu, bagaimana caranya untuk bisa mulai bisnis tersebut?

Pertama, pelajari terlebih dahulu mekanisme ternak dan standar produk.

"Paling tidak mereka juga harus mempelajari bagaimana mekanisme beternaknya," jelas Plh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Veri Anggrijono, di Restoran Nelayan Indonesia, Jakarta, Jumat (19/7/2019).


Dengan mengetahui mekanisme beternak, maka produk yang dihasilkan pun akan memiliki daya jual.

Pemula juga harus mengetahui lokasi mana di Indonesia yang kaya akan sarang burung walet. Contohnya di Kalimantan dan Sumatera yang punya potensi sarang burung walet cukup besar.

Kedua, tentunya dengan mengetahui mekanisme ternak maka pengusaha dapat menentukan harga pasar dan sarang burung walet jenis apa yang diminati pasar.

"Sehingga nanti bisa melihat harga-harga pasar dan peluang pasar itu," lanjut Veri.


Ketiga, hal yang perlu dilakukan yakni memasarkan kualitas produk dengan kualitas terbaik.

"Bagaimana kita memberikan produk yang terbaik dari yang terbaik. Karena sarang burung kan brand-nya beragam, untuk menjaga kualitas masing-masingnya berbeda. Pihak konsumen yang lihat yang mana pengolahan yang terbaik," terang Komisaris PT Tongheng Investment Indonesia Chan Yu Tak.

PT Tongheng Investment Indonesia ini salah satu perusahaan Indonesia yang sukses memasarkan sarang burung waletnya hingga ke pasar internasional.

Salah satu contoh kualitas yang baik untuk sarang burung walet ini adalah dengan menjualnya dalam bentuk siap konsumsi. Pasalnya, sarang burung walet yang sudah siap konsumsi ini pun dari harga jauh lebih tinggi.

"Nilainya (sarang burung walet olahan) juga sangat jauh mahal dibandingkan kita jual raw material (sarang burung walet mentah). Nanti hasilnya mereka betul-betul mengetahui kalau dijual secara raw material ini tidak banyak menguntungkan," papar Veri.


Di Indonesia sendiri, ada Badan Karantina Pertanian yang memeriksa kualitas dari setiap produk sarang burung walet.

PT Tongheng Investment Indonesia pun mengikuti standar Badan Karantina Pertanian yang menggunakan sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) atau analisis bahaya dan pengendalian titik kritis dalam produksi sarang burung waletnya

"Untuk kualitas sarang burung sudah ada ketelusuran sarang burung walet, dari rumah walet, sampai diolah di pabrik mana, sampai dijual, ada sistem HACCP, standar dari badan karantina, itu semua terjaga kualitasnya," pungkas Chan Yu Tak. (dna/dna)