Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 29 Jul 2019 18:23 WIB

Ritel Online Bikin yang Offline Sengsara?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Maraknya ritel online menjadi ancaman bagi ritel offline yang masih menjajakan dagangannya secara konvensional. Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahja Widayanti mengatakan ritel offline harus lebih inovatif apalagi kini sudah memasuki era digital 4.0.

"Saat ini sudah masuk ke teknologi 4.0. Jangan lupa kita harus menyesuaikan dengan perkembangan ini, dan ini juga amanah dari presiden. Beliau meminta untuk memanfaatkan dan ciptakan iklim yang kondusif antara offline dan online. Jadi para ritel melalui online, juga perlu namanya offline," terang Tjahja dalam Gathering Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Namun, menurut Tjahja ritel offline hingga saat ini tetap bisa berjalan walaupun persaingan dengan ritel online semakin ketat.

"Kemarin ada yang komplain bilang toko ritel offline sudah sepi. Kata saya, 'oh ya?' karena saya lihat tetap bisa jalan (bisnis ritel offline)," tuturnya.



Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Lotte Shopping Indonesia Joseph V Buntaran mengatakan, ritel offline memang kini tengah mengalami kesulitan dan berpotensi membuat ritel offline 'sengsara'.

"Zaman sekarang ini bagaimana offline bisa bertahan sebetunya tidak gampang kalau kita bicara yang dihadapi akhir-akhir ini. Tapi mengutip dari Pak Yongkie Nielsen benarkah online membuat kita sengsara? Bisa benar, bisa tidak, tapi kenyataannya adalah pemain ritel masih dalam keadaan susah," jelas Joseph.

Menurutnya, online dapat menjual harga murah, tapi jual rugi. Pasalnya, online utamanya membutuhkan Gross Merchandise Value (GMV) atau Gross Transaction Value (GTV). Maksudnya adalah, jumlah transaksi di ritel online menjadi sasaran utama bisnis online meski harga jual produknya sangat rendah.

"Online setahu saya bisa jualan dengan rugi. Karena dipandang prospektif dari GMV-nya dan untuk mendapatkan GMV tak mudah. Orang klik untuk belanja kalau tak dijual dengan harga murah mau bagaimana?" ungkap Joseph.

Joseph juga menceritakan pengalamannya ketika membeli produk online yang harganya lebih murah hingga Rp 300.000 dibandingkan harga di ritel offline.



"Saya punya pengalaman istri saya punya rice cooker rusak. Harganya sekitar Rp 970.000. Karena online sedang musimnya, istri saya melakukan clicking harga di online ternyata hanya Rp 630.000, berbeda Rp 300.000-an. Itu salah satu bukti, online sangat memberikan impact luar biasa," tukasnya.


Ritel Online Bikin yang Offline Sengsara?


Simak Video "Ritel Berguguran, 6 Gerai Giant Dikabarkan akan Tutup"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com