ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 30 Jul 2019 15:38 WIB

Imbas Krisis Politik, Ekonomi Hong Kong Terguncang

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: AP Photo/Vincent Yu Foto: AP Photo/Vincent Yu
Jakarta - Hong Kong mengalami krisis politik terparahnya dalam lebih dari 20 tahun terakhir. Hal ini mulai berdampak pada perekonomian mereka, bahkan mulai mengguncang kepercayaan investor internasional.

Paul Chan, seorang pejabat keuangan top di pusat keuangan utama Asia, mengatakan pada bahwa demonstrasi massa besar-besaran di Hongkong telah membuat pedagang lokal khawatir.

"Insiden ini merusak citra internasional dan lingkungan bisnis Hong Kong. Bagi perusahaan dan turis asing, Hong Kong tampaknya telah bergejolak dan tidak aman, mempengaruhi keinginan mereka untuk bepergian, berbisnis, dan berinvestasi di Hong Kong," kata Chan dikutip dari CNN, Selasa (30/7/2019).

"Banyak operator ritel dan katering mengatakan volume bisnis baru-baru ini telah turun secara signifikan," tambahnya.

Peristiwa unjuk rasa besar-besaran akhir pekan ini memengaruhi pasar saham lokal Hongkong. Indeks Hang Seng Hong Kong turun sebanyak 1,6%.

Kekhawatiran yang muncul karena protes disebut dapat mempengaruhi ekonomi dan membebani saham untuk pengembang properti, pemilik pusat perbelanjaan, dan pengecer. Bukan cuma itu, seperti pasar Asia lainnya, indeks pun terseret oleh ketidakpastian tentang perdagangan global.



Presiden American Chamber (Kamar Dagang Amerika) Hong Kong Tara Joseph menyerukan agar pemerintah lokal lebih tegas untuk mengembalikan kepercayaan bisnis di kawasan tersebut. Dia juga mendesak agar massa yang protes menahan diri untuk berlaku anarkis.

"AmCham mendesak pemerintah untuk membendung kerusakan lebih lanjut dan menunjukkan kepemimpinan yang jelas dalam memenuhi harapan masyarakat Hong Kong dan memulihkan reputasi internasional kota ini untuk pemerintahan yang efektif di bawah kerangka 'satu negara, dua sistem'," sebut Joseph.

Joseph juga mengatakan dia dan anggotanya meminta pemerintah lokal untuk mengambil langkah tegas yang berkepanjangan. Bukan cuma langkah politis untuk menutupi celah-celah ketidakstabilan sosial dengan perbaikan hukum dan ketertiban jangka pendek.

Hong Kong juga akan melaporkan data pertumbuhan ekonomi triwulanan pada hari Rabu. Diprediksi, ekonomi Hong Kong tumbuh pada laju paling lambat sejak krisis keuangan global 2009. Hal ini disebabkan oleh penjualan ritel yang melambat, pesanan pabrik yang lesu, dan ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Cina.

Ekonom ING Prakash Sakpal mengatakan bahwa protes dapat menambah tantangan bagi kestabilan ekonomi Hong Kong.

"Kota telah terpukul keras oleh protes anti-pemerintah yang dapat mengurangi pertumbuhan lebih jauh di bawah tingkat 0,6% dari kuartal pertama tahun ini," kata Sakpal.

Namun, hal berbeda dikatakan Hannah Anderson, ahli strategi pasar global di JP Morgan Asset Management. Menurutnya aksi protes besar-besaran tidak akan mempengaruhi ekonomi lokal.

"Bahkan jika semua toko tutup lebih awal, atau tutup sepanjang hari, apakah itu mengubah konsumsi, atau mengubah ketika orang pergi berbelanja?" katanya.

Ribuan pengunjuk rasa menentang pemerintah terjadi pada hari Minggu lalu di pusat kota Hong Kong. Massa terpecah ke berbagai arah dan memblokir jalan-jalan utama, membuat distrik sentral Hong Kong macet dan mendorong mal dan toko ritel tutup lebih awal.

Protes dipicu oleh oposisi terhadap RUU ekstradisi dari Hong Kong ke Cina. Namun, protes yang disuarakan berkembang meminta adanya penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi dan pengunduran diri pemimpin Hong Kong, Carrie Lam.



Simak Video "Cekcok dengan Demonstran Hong Kong, Seorang Pria Dibakar"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com