Genjot Ekonomi RI, JK: Percepat Perjanjian Dengan Negara Lain

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 07 Agu 2019 15:08 WIB
Foto: Wapres Jusuf Kalla (Noval Dhwinuari Antony/detikcom)
Jakarta - Indonesia merupakan negara yang berpotensi menjadi pasar besar bagi negara lain untuk menjual produknya. Salah satu alasannya Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar.

Namun, jumlah penduduk Indonesia yang banyak pun memiliki tantangan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Salah satunya adalah pemerataan pendapatan.

"Memang penduduk yang banyak itu baru bisa jadi potensi pasar yang besar kalau punya pendapatan, kalau dia bekerja, kalau ekspor kita naik. Ini juga jadi tantangan," kata JK saat membuka acara Mandiri Beyond Wealth di Ritz Carlton PP, Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Perekonomian Indonesia, kata JK masih dipengaruhi perkembangan ekonomi dunia. Begitu juga pendapatan masyarakatnya di beberapa wilayah. Seperti Kalimantan yang mayoritas bergantung pada komoditas sangat dipengaruhi oleh harga dunia.

"Karena itulah maka kita harus menyadari, untuk itu kita harus menggali kekuatan diri sendiri," jelas dia.



Salah satu upaya pemerintah untuk merealisasikan pemerataan pendapatan, kata JK adalah mempercepat perjanjian perdagangan dengan beberapa negara strategis.

Pasalnya, perjanjian perdagangan itu bisa membantu kinerja ekspor nasional yang sudah mulai kendor.

"Salah satu cara ialah membuat, mempercepat perjanjian FTA atau CEPA dengan negara-negara yang mempunyai kemungkinan pasar," ujarnya.

"Karena tanpa multilateral atau bilateral antara negara-negara yang mempunyai pasar yang cukup besar itu, kita akhirnya mandek, tidak punya ekspor. Itu harus menjadi tantangan pada dewasa ini," sambungnya.



Simak Video "Jusuf Kalla Tinjau Pos Pengungsian dan Lokasi Banjir di Luwu Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)