Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 07 Agu 2019 17:21 WIB

Ikan Koinya Mati, Kenapa Warga Jaksel Sampai Gugat PLN?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Padamnya listrik secara massal di sebagian pulau Jawa akhir pekan lalu sempat merugikan masyarakat. Bahkan, ada dua warga Jakarta Selatan (Jaksel) yang menggugat PLN ke Pengadilan Negeri (PN) Jaksel karena ikan koinya mati akibat dari padamnya listrik. Lalu, apa yang membuat kedua warga tersebut sampai menggugat PLN?

Seorang pebisnis ikan koi asal Semarang, Rudy Tamara menyebut langkah kedua warga tersebut menggugat PLN wajar. Pasalnya, ikan koi sendiri memiliki harga yang cukup tinggi dan risiko matinya besar apabila tak ada pasokan listrik. Apa lagi padamnya listrik yang terjadi sangat mendadak.

Ia menyebutkan, satu ekor ikan koi lokal yang dijualnya ada yang mencapai Rp 10 juta. Sedangkan, harga ikan koi lokal yang paling murah sebesar Rp 100.000/ekor.

"Koi lokal di tempat saya itu kisaran Rp 100.000 itu ikan kecil ukuran 15-20 cm. Kalau yang paling mahal saya jual lokal itu Rp 10 juta, tapi itu belum yang paling bagus ya. Ada yang lebih mahal lagi. Karena koi makin bagus warna dan motifnya makin mahal, kalau saya jual mentok Rp 10 juta," jelas Rudy ketika dihubungi detikFinance, Rabu (7/8/2019).

Rudy pun menjual ikan koi impor dari Jepang yang harganya cukup fantastis. Ia menjual paling murah ikan koi impor Jepang Rp 1,5 juta, sedangkan yang paling tinggi kisaran Rp 10-15 juta.

"Saya juga jual impor yang dari Jepang. Harga paling murah di tempat saya impor Rp 1,5 juta. Paling mahal kisaran Rp 10-15 juta. Ada yang lebih mahal lagi, tapi saya tidak menjualnya," kata Rudy.

Sebelumnya, Rudy mengungkapkan pasokan listrik adalah hal yang penting dalam memelihara ikan koi. Pasalnya, ikan koi membutuhkan suplai oksigen dan air bersih untuk tetap hidup.

"Jadi memang sarana listrik sangat penting untuk pemeliharaan koi. Alasannya, pertama mesin oksigen untuk suplai oksigen, terus untuk pompa filter air itu harus jalan semua supaya airnya tidak keruh. Semua peralatan yang untuk pelihara koi itu kan pakai mesin dan pompa, itu kan membutuhkan listrik," ungkap Rudy.

Rudy mengatakan, ikan koi mengambil nafas di dalam air. Sehingga, pompa udara yang menyuplai oksigen ke dalam kolam harus tetap menyala agar ikan koi tetap hidup.

"Karena ikan koi ambil nafasnya di dasar air. Ikan itu ada dua jenis, yang mengambil nafas di permukaan air atau ke atas seperti ikan lele dan gurame, itu tanpa oksigen atau tanpa listrik dia bisa hidup. Tapi kalau ikan koi itu harus pakai pompa oksigen, harus suplai listrik," paparnya.

Ia mengungkapkan, ikan koi dapat bertahan maksimal 2-3 jam di dalam kolam yang hanya berisi 1-2 ekor ikan koi per satu kubik air (1000 liter air).

"Kalau jumlah ikan satu kolam itu tak banyak dia bisa bertahan lebih lama. Untuk 1 kubik air yang hanya 1-2 ekor, itu bisa bertahan 2-3 jam. Jadi untuk luas kolam 2x4 meter dengan kedalaman 1 meter itu kan 8 kubik air (8000 liter air), dengan isi 8 sampai paling banyak 15 ekor itu bisa bertahan 2-3 jam. Tapi tidak lebih dari itu, paling lama 2-3 jam bisa bertahan," terang Rudy.

Ia pun pernah mengalami kerugian besar di bisnisnya karena 30 ekor ikan koinya mati. Rudy menceritakan, kala itu dirinya tidak mengetahui pompa di kolamnya mati. Sehingga, dengan matinya 30 ekor tersebut kerugian yang harus ia tanggung berkisar Rp 30 juta.

"Saya pernah dulu pompa rusak kita tidak tahu, ikan koi saya mati kurang lebih 30-an ekor koi lokal yang ukuran 25-30 cm. Harganya itu berkisari Rp 500.000-1.000.000. Kurang lebih saya kehilangan Rp 30 juta," tandasnya.

Sebagai informasi, dua warga Jakarta Selatan yang menggugat PLN tersebut kehilangan koi jenis Borodo lokal 50 cm seberat 2 kg, 2 jenis Tancho Kohaku lokal 45 cm seberat 2 kg dan satu jenis Sanke lokal 45 cm seberat 2 kg.

Simak Video "Sidang Ikan Koi Mati Berlanjut, Petrus Yakin Menang Gugat PLN"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com