Defisit Tahun 2005 Diperkirakan Kurang Dari 0,9 persen
Kamis, 20 Okt 2005 23:45 WIB
Jakarta - Pemerintah memperkirakan defisit anggaran tahun 2005 akan lebih kecil dari target semula, yakni 0,9 persen dari PDB. Hal ini dapat terjadi jika departemen belum mencairkan anggaran untuk kebutuhan proyek departemen masing-masing."Kalau pola pengeluaran departemen seperti sekarang ini kita mempunyai defisit yang lebih kecil daripada target 0.9 persen," ujar Menteri Keuangan Jusuf Anwar usai buka bersama di Gedung Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (20/10/2005).Kini, permintaan pencairan anggaran dari tiap-tiap departemen masih kecil. Sehingga, pemerintah mengalami surplus anggaran. "Kalau polanya seperti sekarang, kan belum begitu deras kita masih punya surplus di cash flow kita," ujar dia.Akibat pencairan anggaran yang masih kecil ini, maka investasi pemerintah berkurang, pengeluaran kurang, belanja kurang, dan perekonomian kurang berputar. "Oleh karena itu, saya mendorong mereka (departemen) untuk cepat mencairkan, cepat melakukan investasi, memang ada hambatan misalnya masalah tender atau pemilihan pimpinan proyek," lanjut menkeu.Mengenai pertumbuhan ekonomi, meskipun ada kenaikan harga BBM awal Oktober lalu, Jusuf tetap optimistis pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6 persen. "Insya Allah 6 persen, tapi mungkin agak meleset di bidang inflasi karena ada demand, bahan baku kan pada naik," tegas menkeu.Apakah inflasi bisa mencapai 12 persen? "Mudah-mudah gak begitulah, meskipun double digit pada tingkat yang paling bawah, tapi kalau inflasi men-drive growth, why not kalau ada growth-nya," jawab menkeu.Buyback SUNUntuk rencana buyback (pembelian kembali) Surat Utang Negara (SUN), Jusuf mengatakan pemerintah menyediakan dana Rp 3 triliun untuk melakukan buyback tahap pertama.Pemerintah menyediakan dana Rp 5 triliun untuk reprofiling SUN. Sehingga, pada tahap kedua pemerintah akan menyediakan dana Rp 2 triliun. Buyback tahap pertama ini rencananya akan dilaksanakan sebelum penerbitan SUN pada tanggal 25 Oktober. Buybackdilakukan untuk mengelola obligasi yang jatuh temponya berdekatan."Itu harus kita manage dalam bentuk memindahkan maturity ke depan. Sehingga, tersebar melalui reprofiling, debt switching, buyback. Yang mahal kita beli dengan dana murah, yang jangka waktunya pendek kita beli dengan masa jatuh tempo yang panjang itu sangat menguntungkan," beber menkeu.
(ism/)











































