Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 09 Agu 2019 17:45 WIB

Tangkap Peluang Ekspor Pasar Eropa, Produksi Kakao Digenjot

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Pemerintah terus berupaya menggenjot produksi kakao nasional. Selain untuk memenuhi tingginya permintaan di dalam negeri, peningkatan produksi diperlukan untuk menangkap peluang-peluang ekspor terutama peluang yang diberikan pasar Uni Eropa.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengatakan tingginya konsumsi cokelat di kawasan Uni Eropa menjadi daya tarik tersendiri bagi negara produsen kakao dunia, termasuk Indonesia. Terutama untuk kakao olahan yang bernilai lebih tinggi dibandingkan ekspor biji kakao.

"Bagi orang Eropa, cokelat dalam bentuk padat maupun yang dikonsumsi dalam bentuk beverages merupakan barang konsumsi wajib selain kopi dan cake" ungkap Kasdi dalam keterangan tertulis, Jumat (9/8/2019).


Menurut studi yang dilakukan Universitas of New England pada tahun 2014, zat flavanoid yang terkandung di cokelat juga berfungsi untuk meningkatkan memori otak pada manusia. Fakta tersebut, juga turut mempengaruhi tingginya konsumsi cokelat di wilayah tersebut.

Kadi mengungkapkan bahwa secara global impor Eropa pada 2018 didominasi oleh biji kakao dengan volume mencapai 2,3 juta ton. Kemudian diikuti dengan cocoa butter, fat and oil dengan jumlah volume mencapai 604.529 ton. Lalu ada cocoa paste (excluding defatted) dengan volume mencapai 502.866 ton dan cocoa paste, wholly or partly defatted dengan volume mencapai 139.253 ton.

"Ini bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia, kakao telah menjadi komoditas andalan ekspor nasional, di samping kelapa sawit dan karet" ujarnya.


Untuk mengoptimalkan ekspor kakao Indonesia. Kementerian Pertanian telah melakukan beberapa upaya untuk menekan hambatan dalam meningkatkan ekspor kakao olahan Indonesia ke Uni Eropa.

Kementerian Pertanian Indonesia melalui wadah diplomasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU - CEPA) terus melakukan kerjasama diplomasi dan upaya dagang untuk mengurangi tarifikasi kakao di Eropa sekaligus meningkatkan konsumsi kakao olahan Indonesia di wilayah tersebut.

Selain itu, lanjut Kasdi, Kementerian Pertanian terus meningkatkan program BUN 500 yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kakao nasional melalui penyediaan bibit kakao unggul.

"Ketersediaan benih unggul merupakan faktor penentu untuk meningkatkan produksi yang berdaya saing. Dalam lima tahun ke depan, BUN 500 diharapkan dapat menggenjot capaian ekspor perkebunan lebih agresif," pungkasnya.

Data menunjukkan konsumsi coklat untuk 10 (sepuluh) negara kawasan Eropa pada tahun 2019 mencapai 6,2 kg/kapita/tahun. Konsumsi tersebut didominasi oleh konsumsi cokelat negara Swiss (8,2 kg/kapita/tahun), Jerman (7,9 kg/kapita/tahun) serta Inggris dan Irlandia dengan masing-masing konsumsi mencapai 7,4 kg/kapita/tahun.

Simak Video "Mie Rasa Cokelat? Begini Cara Buatnya"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed