Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 14 Agu 2019 22:45 WIB

Pak Mendag, Bisa Nggak Sih Ekonomi RI Tumbuh 5,2%?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah-kemeja putih)/Foto: Syahdan Alamsyah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah-kemeja putih)/Foto: Syahdan Alamsyah
Tangerang - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menganggap Indonesia masih bisa bertahan di tengah melemahnya perekonomian dunia yang disebabkan oleh perang dagang Amerika Serikat (AS)-China dan juga fenomena Britain Exit (Brexit).

Enggar menilai, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara lain, dan ia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 di atas 5%.

"Indonesia Insyaallah akan tetap bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Dan di dalam berbagai pertemuan-pertemuan, negara lain memberikan apresiasi dan penghargaan bahwa pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonominya, bahwa negara lain turun drastis tapi kita menunjukkan sebenarnya we are on the right track," kata Mendag dalam peresmian Indonesia Great Sale, di TangCity Mall, Tangerang, Rabu (14/8/2019).


Namun Enggartiasto enggan mengiyakan bahwa target pemerintah yakni pertumbuhan ekonomi 5,2% dapat tercapai. Ia hanya menyebutkan bahwa targetnya, dengan target pemerintah yaitu 5,2%, sama-sama di atas 5%.

"Loh, kan 5,2% di atas 5% kan? Nothing wrong? Ya pokoknya di atas 5%. Apapun itu kita harus mencapai itu," ujar pria yang biasa dipanggil Enggar itu.

Enggar mengakui Indonesia tentunya kena imbas dari pelemahan ekonomi dunia. Ia juga mengakui bahwa adanya pelemahan dari ekspor Indonesia.

"Ekonomi kita terdampak dengan melemahnya pasar dunia yang diakibatkan perang dagang, kecenderungan proteksionisme dan sebagainya. Ada beberapa toko yang tutup sehingga kemudian apalagi sebelum tanggal 17 yang lalu itu di blow up bahwa ekonomi kita melemah, daya beli kita melemah. Bahwa ada ketidakpastian dalam perekonomian dunia, ya. Melemahnya ekspor kita akibat daya beli luar negeri melemah, ya," imbuh Enggar.

Namun, ia optimistis Indonesia mampu bertahan dengan adanya potensi peningkatan konsumsi. Ia menyebutkan, konsumsi rumah tangga menyumbang 56,85% terhadap produk domestik bruto (pdb).

"Konsumsi domestik masih cukup kuat, masih kuat. Oleh karena itu, konsumsi rumah tangga mencapai 56,85% dari pdb. Dan itulah kemampuan kita menjaga daya beli masyarakat sehingga kita bisa konsumsi," ucapnya.

Enggar juga menyebutkan soal Singapura yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya pada tahun 2019 di antara 0-1%. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah cukup hebat dengan kondisi perekonomiannya.

"Tetapi ini luar biasa, Singapura saja menurunkan (proyeksi pertumbuhan ekonomi) hanya 0-1%. Pertumbuhan ekonomi mereka dia turunkan menjadi 0% sampai 1% akibat kondisi ekonomi dunia," tandas Enggar.

Sebagai informasi, Pemerintah Singapura memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 mendekati nol. Hal ini seiring dengan kondisi global, khususnya perang dagang.


Pemangkasan proyeksi produk domestik bruto di Singapura sering dianggap sebagai penentu bagi pertumbuhan global. Ekonomi Singapura diperkirakan hanya tumbuh di kisaran 0-1% tahun ini, turun dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 1,5-2,5%.

Adanya pemangkasan proyeksi ekonomi Singapura menambah kekhawatiran secara global tentang dampak peningkatan proteksionisme terhadap ekspor dan produksi. Selain itu, hal ini telah mendorong bank sentral untuk memangkas suku bunga.

Simak Video "Sandi: Pemerintah Terjebak Dalam Pertumbuhan Ekonomi 5%"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com