Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 16 Agu 2019 15:12 WIB

Neraca Dagang Tekor Salahkan Impor Migas, ESDM: Mau Ganti Kayu Bakar?

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Neraca dagang Indonesia kembali mengalami defisit pada Juli 2019 sebesar US$ 60 juta. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan penyebabnya lantaran impor migas masih tinggi, tak sebanding dengan ekspor sehingga menyebabkan defisit.

Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, bisa saja neraca perdagangan migas mengalami surplus, caranya dengan berhenti impor bahan bakar. Tapi tentu ada konsekuensinya.

"LPG kita impor, bensin impor, tapi kan apa LPG kita setop impornya, ganti lagi kayu bakar, ganti lagi minyak tanah?," kata dia di Gedung Migas, Jakarta, Jumat (16/8/2019).


Tentu saja itu bukan solusi yang ditawarkan. Dia mengatakan, Kementerian ESDM pun tengah berupaya mengontrol impor migas, salah caranya dengan memanfaatkan kompor listrik.

"Kita kan lagi berupaya ke kompor listrik," jelasnya.

Di samping itu, ada program B20 yang akan loncat ke B30 dan B50, serta secara bertahap akan loncat lagi ke B100. Ini akan mengarungi impor solar karena digantikan oleh biodiesel yang diproduksi dalam negeri.


"Gini, kalau migas, kalau yang jelek kita lagi berupaya. Bensin walaupun kita impornya tinggi tapi kan upaya negara bahwa ini subsidinya kita alihkan untuk pembangunan yang lain, kesehatan dan sebagainya kan juga bertahap berhasil," tambahnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam data BPS, pada Juli 2019, ekspor migas tercatat sebesar US$ 1,6 miliar sedangkan impornya US$ 1,74 miliar atau defisit US$ 142,4 juta.

Simak Video "Neraca Dagang RI Masih Surplus US$ 0,13 Miliar di November 2017"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed