Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 19 Agu 2019 11:17 WIB

Senjakala Bisnis Televisi Saat YouTube Cs Menggila

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Perkembangan internet yang begitu menggila membuat semua hal sulit diprediksi. Seperti hukum rimba: tak bisa berinovasi pasti mati.

Sepertinya hal itu mulai dirasakan oleh industri pertelevisian. Serbuan para konten kreator di channel YouTube membuat para pemainnya kelabakan.

CCO DIREXION Strategy Consulting dan Chairman CEO Business Forum Indonesia Jahja B Soenarjo menilai industri pertelevisian mulai masuk masa senja. Semua karena pergeseran dari gaya hidup masyarakat yang ditopang oleh perkembangan internet.

"Bisa jadi begitu tapi waktu yang akan membuktikan. Pergeseran ini boleh dibilang sudah pasti tapi bisa diantisipasi. Apakah lebih cepat atau lambat ya tidak tahu," ujarnya kepada detikFinance, Senin (19/8/2019).

Jahja menyebut industri televisi adalah industri konvensional yang mulai menuju digital. Sayangnya tujuan digital itu terlambat dilakukan.

Sudah puluhan tahun industri televisi menguasai semua jenis konten, mulai dari berita, edukasi hingga hiburan. Tapi ketika YouTube semakin booming, konten edukasi direbut dari para pemain televisi.

"Sekarang banyak YouTuber dengan ide gila. Bayangkan ada yang dalam 1 tahun bisa dapat 3 juta subscriber," tambahnya.

Kini konten yang masih dikuasai industri televisi hanya konten berita dan sebagian hiburan. Kenapa sebagian, karena kaum milenial tak lagi suka nonton sinetron ataupun hiburan kontes dangdut.

Meskipun masyarakat Indonesia ini sangat banyak. Dari 250 juta, tentu masih banyak yang suka menonton sinetron maupun acara dangdut, terlebih bagi mereka yang ada di daerah.


Nah para pemain pertelevisian yang terlalu kreatif dan ingin merebut konten hiburan kaum milenial tentu sangat sulit. Coba lihat, setiap hari ada saja pembuat konten YouTube baru yang muncul. Mereka muncul dengan ide-ide gila.

Jika ingin head to head dengan mereka, tentu harus siap untuk berdarah-darah. Tak seperti televisi, pembuat konten di YouTube tak perlu menyiapkan uang yang banyak.

"Jadi pemain yang tidak bisa baca itu dan sudah investasi besar ya harus diakui mereka berdarah-darah. Semua investor ujung-ujungnya lihat RoI (return of investment). Kalau enggak balik ya lebih baik mereka keluar. Begitu ditinggalkan investor ya otomatis kehabisan nafas," tambah Jahja.

Jika sudah berdarah-darah, yang akan dilakukan sama seperti perusahaan lainnya yakni efisiensi. Dua hal yang umumnya dilakukan dalam efisiensi yakni pengurangan karyawan dan menjual aset.

Belakangan ini ramai beredar kabar bahwa NET tv berencana melakukan pengurangan karyawan. Pihak perusahaan belum buka suara terkait kabar tersebut.



Simak Video "Nah Loh, Pemuda yang Ludahi Jurnalis TV Positif Narkoba"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com