Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 19 Agu 2019 13:04 WIB

Iklan di TV Masih Berlimpah, Mengapa NET TV Goyah?

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Industri pertelevisian sejatinya masih mendulang cuan dari iklan. Lalu mengapa NET TV dikabarkan akan mengurangi karyawannya?

Menurut data Nielsen Indonesia tentang belanja iklan kuartal I-2019 relatif stabil di angka 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Belanja iklan itu masih didominasi oleh media televisi.

Tercatat total belanja iklan di televisi mencapai Rp 30,9 triliun. Angka itu tumbuh 8% dibandingkan dengan kuartal yang sama di 2018. Demikian menurut hasil temuan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel).

Memang industri televisi saat ini mendapatkan pesaing yang sakti mandraguna, yakni para konten kreator YouTube. Lewat ide-ide gila mereka, pemirsa televisi dengan mudah direbutnya.

Menurut CCO DIREXION Strategy Consulting dan Chairman CEO Business Forum Indonesia Jahja B Soenarjo saat ini konten yang masih dikuasai industri televisi hanya konten berita dan sebagian hiburan. Kenapa sebagian, karena kaum milenial tak lagi suka nonton sinetron ataupun hiburan kontes dangdut.

Meskipun masyarakat Indonesia ini sangat banyak. Dari 250 juta, tentu masih banyak yang suka menonton sinetron maupun acara dangdut, terlebih bagi mereka yang ada di daerah.

"Apakah konten sinetron dan dangdut itu masih disukai? Kalau yang disuka itu ya sudah bikin itu saja," ujarnya kepada detikFinance, Senin (19/8/2019).

Nah, pemain pertelevisian yang masih hidup hingga saat ini karena masih melihat peluang itu. Sementara bagi mereka yang masih bersikeras dengan konten idealisnya harus siap menelan pil pahit.


"Terlalu kreatif juga percuma karena ibu-ibu rumah tangga yang penting bukan kreatifnya. Kalau terlalu kreatif yang di daerah-daerah pasti tidak butuh," tambahnya.

Konten-konten hiburan yang digarap NET Tv memang kebanyakan cukup kreatif dan berkualitas. Sayangnya konten-konten itu harus bersaing dengan konten yang ada di YouTube.

Jahja tidak menilai sebenarnya tidak masalah jika ingin tetap menyediakan sajian tontonan yang berkualitas. Namun dibutuhkan modal yang kuat untuk bisa bertahan.

"Kreatif jangan terlalu cepatlah, kecuali nafas (modal) Anda panjang. Karena Anda bersaing dengan para kreator-kreator gila yang ada di YouTube, yang mereka gratis," tutupnya.



Tonton juga video Topreneur tentang pengusaha sepatu kulit yang diapresiasi Presiden Jokowi berikut ini:

(das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com