Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 22 Agu 2019 13:17 WIB

Betul Nggak Sih Ekonomi AS Sedang di Ambang Resesi?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Tanda peringatan berdenting soal kemungkinan resesi di Amerika Serikat (AS) pada 2020 mendatang. Kondisi ekonomi AS apakah bisa tumbuh atau terhenti bergantung pada daya beli masyarakat.

Sejauh ini, daya beli masyarakat masih ada dalam level yang baik. Selain itu, tingkat pengangguran mendekati level terendahnya dalam 50 tahun terakhir diikuti upah yang kian membaik. Daya beli ini menyumbang 70% dari ekonomi AS.

"Konsumen mengendalikan roda perekonomian," kata Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi dikutip dari CNN, Kamis (22/8/2019).

Zandi meyakini bahwa masyarakat tidak akan berhenti belanja. Sedangkan pengangguran saat ini hanya 3,7% atau berada di bawah 4% selama 17 bulan berturut-turut. Namun, jika angka pengangguran meningkat maka ini menjadi kekhawatiran baru.


Direktur Senior The Conference Board Lynn Franco mengatakan masyarakat masih optimistis terhadap data tenaga kerja AS. Hal ini membuat mereka masih yakin untuk terus belanja.

"Itu salah satu elemen belanja masyarakat," katanya.

Namun, penyerapan tenaga kerja mengalami perlambatan pada kuartal ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika kinerja perusahaan menurun karena merekrut banyak karyawan, pengangguran bisa meningkat.

Meskipun belanja masyarakat masih berjalan dengan baik, tapi ada hal yang perlu digarisbawahi. Penjualan mobil dan rumah yang menjadi barometer penting ini mengalami penurunan. Keduanya jatuh 2% pada semester I-2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan penjualan dua elemen ini menimbulkan dampak yang lumayan.

Industri mobil adalah perusahaan besar, baik pabrik maupun dealer. Sedangkan penurunan penjualan rumah berdampak pada terbatasnya pada belanja barang seperti furnitur hingga cat dan karpet.

"Perumahan berjalan jauh ke dalam ekonomi," ujar Zandi.

Turbulensi yang terjadi belakangan ini di pasar saham juga dapat mempengaruhi kepercayaan pelaku pasar. Mereka yang tidak berinvestasi di pasar modal juga menyoroti hal ini karena menjadi bagian dari ekonomi suatu negara.

Indeks kepercayaan konsumen juga tercatat mengalami penurunan berdasarkan laporan dari University of Michigan. Kehati-hatian ini bisa menjadi masalah pada ekonomi.

"Dengan ketidakpastian ekonomi, konsumen mengurangi belanja pada item-item yang besar," ujar Franco.


Pihaknya melihat terjadi penurunan pada pembelian mobil, rumah, dan peralatan lainnya. Namun, pada saat yang sama orang yang berencana berlibur dalam enam bulan ke depan naik 2% yang menandakan bahwa belanja tak serta-merta direm.

Selanjutnya, data perjalanan menggunakan pesawat juga tercatat naik 4% di tengah harga tiket yang tinggi. Masyarakat juga tercatat lebih banyak makan di luar yang menandakan adanya pengalihan belanja.

Peritel besar seperti Walmart dan Target telah melaporkan data penjualan yang tinggi. "Kondisi ekonomi pelanggan kami tetap solid," kata CFO Walmart Brett Biggs.

Zandi mengatakan jika penjualan ritel melambat, hal itu berdampak pad apenutupan toko dan PHK yang meluas di ritel.

"Sektor ritel berada di ambang guncangan," ujarnya.

Simak Video "Drama Pengejaran Perampok Perhiasan Disertai Penyanderaan di AS"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com