Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 24 Agu 2019 09:38 WIB

Perang Dagang Makin Panas, Trump Desak Pengusaha AS Cabut dari China

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping/Foto: Reuters Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping/Foto: Reuters
Jakarta - China akhirnya mengumumkan tarif balasan untuk barang impor Amerika Serikat (AS) senilai US$ 75 miliar. Balasan ini dilancarkan untuk merespon pengenaan tarif masuk ke AS.

Mengutip Reuters, Presiden AS Donald Trump menanggapi kebijakan China itu dengan meminta perusahaan asal AS untuk angkat kaki dan memindahkan operasional mereka dari China.

"Perusahaan-perusahaan besar Amerika kami dengan ini diperintahkan untuk segera mulai mencari alternatif ke China, termasuk membawa pulang perusahaan Anda dan membuat produk Anda di AS. Kami tidak membutuhkan China dan, sejujurnya, akan jauh lebih baik tanpa mereka," ujar Trump, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/8/2019)

Trump mengecam balasan yang dilakukan oleh China dengan menambah 5% tarif tambahan untuk U$ 550 miliar barang dari China. Respons ini diumumkan Trump beberapa jam setelah China memberikan tarif sebagai balasan untuk AS sebesar US$ 75 miliar.


Perang dagang kedua negara besar ini disebut makin menciptakan kekhawatiran pada pasar yang akan mempengaruhi perekonomian global. Hal ini tercermin dari harga saham AS yang terus mengalamu penurunan di Nasdaq Composite. IXIC turun 3% dan S&P 500 .SPX turun 2,6%. Imbal hasil di AS juga mengalami penurunan karena investor mencari tempat untuk safe haven.

Pengumuman yang dilakukan Trump berpotensi menciptakan gonjang ganjing pada pasar keuangan AS. Pasalnya pengumuman tersebut dilakukan setelah pasar tutup.

Dalam cuitannya Trump menilai langkah balasan China disebut tidak mendukung sistem perdagangan yang adil dan seimbang. Hal tersebut justru menjadu beban yang berat untuk wajib pajak asal AS.

"Sebagai Presiden saya tak bisa membiarkan ini terjadi lagi!" tulis Trump.

Dia mengungkapkan, AS akan memberlakukan bea impor China yang bernilai US$ 250 miliar naik 30% dari sebelumnya 25% yang akan dimulai pada 1 Oktober 2019 atau saat peringatan berdirinya Republik Rakyat China.

Namun, Trump juga mengumumkan kembali kenaikan tarif untuk barang senilai US$ 300 miliar menjadi 15% dari sebelumnya 10%. Tarif ini akan berlaku pada 1 September 2019 hingga 15 September 2019.


Kantor perwakilan dagang AS mengonfirmasi tanggal pemberlakuan tarif tersebut. Pihaknya akan segera mengumumkan ke publik terkait pemberlakuan ada 1 Oktober 2019.

Sementara itu sejumlah asosiasi pengusaha mengaku tak suka dengan kenaikan tarif baru tersebut. Menurut mereka hal tersebut bisa mengganggu iklim bisnis.

"Tak mungkin bisnis bisa berjalan dengan iklim yang seperti ini. Pendekatan lain tak berhasil jika ini terjadi maka tak ada lagi pajak dari bisnis dan konsumen di AS. Kapan ini akan berakhir?," kata wakil presiden asosiasi eceran nasional, David French.

Trump akan bertemu dengan pimpinan negara G7 di Prancis. Ketegangan dagang dengan China akan menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan ini.

Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com