Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 28 Agu 2019 19:13 WIB

Strategi Kementan Perangi Pemalsuan Pestisida

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Erliana Riady Foto: Erliana Riady
Jakarta - Sekitar 900 Miliar rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani bawang merah di Kabupaten Brebes setiap tahun untuk membeli pestisida. Demikian diungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes Yulia Hendrawati.

Daerah yang menjadi Sentra bawang merah terbesar di Indonesia ini mempunyai lahan produktif lebih dari 30.000 ha dan menjadi pemasok utama
kebutuhan bawang merah terutama di Pulau Jawa.

Selain bawang merah, pulau jawa mempunyai banyak sentra komoditas pertanian yang tentu menjadi ladang bisnis menggiurkan bagi para pengusaha.


Tak heran jika hal ini memancing para sindikat pemalsuan produk pestisida untuk ikut mencari keuntungan dengan cara merugikan para pelaku usaha dan terutama peran petani, sasaran produk yang menjadi target pemalsuan biasanya produk premium yang mempunyai harga mahal dan laku di pasaran (fast moving).

"Bulan Mei 2019 terdapat 4.646 formulasi pestisida yang terdaftar di Kementan dan ada 1.700 formulasi yang ditarik karena sudah dicabut izinnya karena ilegal dan habis masa berlakunya," kata Direktur prasarana dan sarana pestisida Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian Muhrizal Sarwani.

Ia juga menambahkan bahwa Kementrian Pertanian dan Polri sudah mempunyai koordinasi dengan membentuk satuan tugas (Satgas) pangan yang mempunyai prioritas pengawasan terhadap sembako, saprodi dan juga pestisida.

Pada bulan Februari lalu, Dinas pertanian Kabupaten Brebes berkolaborasi dengan polri dan kejaksaan setempat berhasil membongkar sindikat peredaran pestisida palsu dan menyeret para pelaku ke depan pengadilan dan akhirnya dijatuhi hukuman 10 bulan penjara.

Peristiwa ini menjadi sebuah prestasi karena baru pertama kali kasus pestisida palsu berhasil mendapat perhatian dan disidangkan.

Pemalsuan produk ini tentu merugikan produsen, Mayang Sari Marchainy, anggota komite CropLife Indonesia dari Pt Corteva Indonesia menyebutkan secara global disebutkan pelaku pemalsuan pestisida di seluruh dunia bisa memperoleh keuntungan setidaknya US$ 6,5 miliar.


Selain pasti merugikan petani karena berdampak langsung pada hasil produksi, hal ini juga merugikan lingkungan, apalagi jika produk tersebut mengandung bahan-bahan berbahaya yang seharusnya dilarang edar.

Maka sinergi lintas sektoral ini sangat perlu dilakukan untuk menjalin koordinasi dan kolaborasi yang disepakati oleh semua stakeholders agar saling terhubung, hal ini penting dalam upaya penanganan kasus pemalsuan produk pestisida ini.

"Perlu perjalanan panjang dan biaya yang sangat besar untuk menemukan pestisida yang efektif. Banyak uji yang dilakukan, dari mulai biologis, kimiawi dan morfologis. Industri pestisida adalah industri yang sangat besar dan mahal," ujar Mayang. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com