Perang Dagang Makin Panas, Harga Emas Justru Kinclong

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Selasa, 03 Sep 2019 15:18 WIB
Foto: Pradita Utama
Jakarta - Sentimen perang dagang dan gejolak politik di sejumlah negara mengerek harga emas dunia. Kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh perang perdagangan AS-China yang intensif membuat harga emas mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Harga emas memang sempat turun hari ini di tengah penguatan dolar AS. Spot gold turun 0,3% pada US$ 1,526,35 per ons pada 0605 GMT, tetapi masih belum jauh dari minggu lalu US$ 1,554,56, yang merupakan level tertinggi sejak April 2013.

"Dolar yang lebih kuat membebani harga emas," kata Analis Phillip Futures Benjamin Lu seperti dikutip dari Reuters, Selasa (3/9/2019).

Benjamin bilang, investor saat ini sedang menunggu survei manufaktur AS oleh Institute for Supply Management (ISM) untuk panduan tentang kondisi ekonomi AS ke depan.

"Hasil ISM yang lebih baik dari yang diharapkan dapat memberikan beberapa kelemahan pada harga emas secara intraday," katanya.

Adapun nilai tukar dolar AS terhadap enam mata uang utama hari ini tercatat naik 0,4%. Dolar yang menguat membuat emas batangan lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.


"Sentimen risiko perang dagang secara keseluruhan buruk dan cenderung menciptakan lebih banyak volatilitas, menguntungkan emas," jelasnya.

China sendiri telah mengajukan pengaduan terhadap Amerika Serikat di Organisasi Perdagangan Dunia atas bea masuk AS. China meminta membatalkan tindakan tarif terbaru karena melanggar konsensus yang dicapai oleh para pemimpin China dan Amerika Serikat dalam pertemuan di Osaka, Jepang beberapa waktu lalu.

Yang juga membuat para investor gelisah adalah ketidakpastian mengenai Brexit dari Perdana Menteri Boris Johnson. Boris mengindikasikan bahwa ia dapat menyerukan pemilihan memblokir upaya anggota parlemen mencegah Brexit yang tak kunjung disepakati.

"Saya pikir pasar masih secara struktural bullish, dengan berita utama bearish yang konsisten memicu kenaikan emas," kata Howie Lee, ekonom di OCBC Bank

"Saya tidak akan terkejut jika emas menembus di atas US$ 1.600/ons sebelum tahun ini berakhir." katanya.

Emas naik lebih dari US$ 100 pada bulan Agustus lalu karena perang dagang. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran penurunan ekonomi global, hasil utang negatif di seluruh dunia dan harapan penurunan suku bunga oleh bank sentral AS.

Di Indonesia sendiri, harga emas sedang tinggi-tingginya. Pada pekan terakhir Agustus 2019 lalu, harga emas menyentuh rekor tertinggi hingga Rp 774.000/gram.



Simak Video "Kabar Baik Atau Buruk? Harga Emas Hampir Rp 1 Juta/Gram!"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/fdl)