Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Sep 2019 10:49 WIB

Ekonomi Dunia Dibayangi Resesi, Benarkah Akan Terjadi?

Trio Hamdani - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Ancaman resesi ekonomi global saat ini menghantui seluruh dunia. Sejumlah ahli ekonomi dan investasi ada yang menganggap resesi akan benar-benar terjadi, walaupun ada yang tak sependapat dengan itu.

Ekonom Raden Pardede pun menyoroti perdebatan yang terjadi menyoal bayang-bayang resesi. Menurutnya ada beberapa faktor yang menimbulkan kekhawatiran bahwa resesi akan terjadi.

"Satu, siklus ekspansi ekonomi Amerika sekarang ini sudah lebih dari 10 tahun, yaitu ekonomi Amerika mengalami pertumbuhan secara terus menerus sejak Juli tahun 2009," kata dia dalam catatannya yang diterima detikcom, Jakarta, Rabu (4/9/2019).


Itu menurutnya siklus bisnis terpanjang dalam sejarah perekonomian AS, di mana biasanya sesudah ekspansi akan ada kontraksi. Siklus ini masuk dalam persepsi dan pertimbangan para ahli dan investor.

"Kedua, yield curve, slope imbal balik investasi menjadi negatif, yaitu bunga investasi jangka panjang di bond pemerintah lebih rendah dari jangka pendek. Mengindikasikan pesimisme terhadap ekonomi jangka menengah panjang, juga pertanda resesi kedepan," jelasnya.

Sebanyak dua faktor itu yang menjadi landasan para ahli dan investor untuk mengindikasikan resesi akan terjadi.

"Sementara data-data ekonomi di Amerika secara umum masih cukup solid, tingkat pengangguran masih rendah, harga rumah naik. Data ini tidak mendukung adanya resesi. Namun tingkat kecemasan dan ketidakpastian naik," jelasnya.

Investor global, lanjut dia, tentunya tidak hanya mengamati ekonomi AS, meskipun ekonomi Amerika paling besar yang mungkin membawa ekonomi dunia ke resesi, keadaan ekonominya masih cukup baik.

Ekonomi di luar AS yang sekarang sedang mengalami slow down, termasuk Uni Eropa, China, Jepang/Korea, dan sebagainya pun menjadi perhatian, karena negara-negara tersebut mengalami beberapa hal.

"Profit menurun, volume perdagangan menurun, index pengangkutan kapal turun, harga tembaga turun, semua menggambarkan slow down. Kecemasan karena trade war dan currency war, di tengah geopolitik yang tidak kondusif yang di-trigger oleh (Presiden AS) Trump" ujarnya.

Dia juga menilai, harga emas yang mengalami kenaikan merupakan tanda-tanda orang mencari tempat perlindungan.

"Hal ini membuat economic policy uncertainty index (EPU index) mencapai level tertinggi," sebutnya.


Terlepas dari perdebatan yang ada, dia melihat resesi global belum, namun kecemasan naik.

"Apakah akan terjadi resesi benaran. Belum pasti, namun keadaan ekonomi Amerika akan jadi kunci. Sangat tergantung juga pada kebijakan pemerintah Trump tentang trade dan currency war serta kebijakan the Fed," jelasnya.

Para investor menurut dia akan terus punya skenario pikiran dan memcoba menebak sendiri-sendiri. Hal ini membuat naik turunnya pasar modal.

"Apapun itu, buat kita paling penting selalu waspada, siapkan payung sebelum hujan. Hujan akan datang, apakah hanya gerimis atau badai kita belum tahu kapan. Tapi bersiap selalu lebih baik," tambahnya.

Ekonomi Dunia Dibayangi Resesi, Benarkah Akan Terjadi?


Simak Video "Ajarkan Budaya Menabung Sejak Dini, BRI Buka BRILink di Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com