Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 07 Sep 2019 19:40 WIB

Izin Ruwet hingga Pusat-Daerah Belum Sinkron Bikin Investor Ogah Lirik RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi/Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi pertumbuhan ekonomi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kesal lantaran mendapat informasi 33 perusahaan yang hengkang dari China tak satu pun memilih pindah ke Indonesia. Sebanyak 23 perusahaan memilih pindah ke Vietnam, dan 10 perusahaan sisanya pindah ke Malaysia, Thailand, hingga Kamboja

Informasi tersebut diperoleh Jokowi dari paparan Bank Dunia beberapa waktu lalu. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah nggak menarik lagi di mata investor?

Ekonom INDEF (Institute for Development of Economics and Finance), Bhima Yudhistira Adhinegara Indonesia kurang dilirik investor salah satunya karena perizinan dan insentif di Indonesia yang kurang menarik serta terputus dari rantai pasok global.

"Faktor utama memang karena ruwetnya perizinan relokasi industri manufaktur. Vietnam itu punya sistem perizinan investasi lebih terintegrasi antara pusat dan daerah, sementara Indonesia antara pemerintah pusat dan daerah belum klop," jelas dia.


Bhima mencontohkan, misalnya OSS (Online Single Submission/perizinan online terpadu) di bawah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pusat dan PTSP di tingkat daerah masih terhambat sinkronisasi izin wilayah. Hal ini menyebabkan investor yang sudah mengantongi izin di pusat, tapi di daerah digantung berbulan-bulan.

"Ibarat masuk pintu, keluarnya seribu jendela," ujarnya.

Selain itu, Vietnam memiliki insentif yang spesifik seperti CIT atau insentif tergantung lokasi pabrik dan jenis usahanya. Rate insentif yang diberikan beragam dan memiliki bonus 5-20%.

Beda dengan di Indonesia, pemerintah memberi banyak insentif tax holiday, tax allowance tetapi belum tentu investor tertarik karena terlalu umum.

Padahal menurut Bhima tahun lalu pemerintah mengeluarkan belanja pajak Rp 221 triliun setara 1,5% produk domestik bruto (PDB).

"Kan ada juga investor di sektor tekstil misalnya, dia pilih insentif diskon tarif listrik di jam sibuk atau keringanan bea masuk untuk pengadaan mesin baru. Jadi tidak semua butuh tax holiday, kalau insentif nggak spesifik itu namanya mubazir," ujar dia.


Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai Indonesia kalah dengan Vietnam, Thailand dan Malaysia dalam menangkap peluang tren relokasi investasi yang sedang berlangsung khususnya dari China.

Piter menambahkan, selama lima tahun terakhir ini pemerintah juga sudah cukup banyak melakukan upaya untuk menarik investasi, mulai dari perbaikan perizinan dengan OSS, hingga pemberian berbagai insentif pajak.

"Sesungguhnya Indonesia sudah sangat menarik bagi investor, tetapi hambatan seringkali justru saat investor akan merealisasikan investasinya," ujar Piter.

Simak Video "Berorientasi Ekspor, Jokowi Goda China untuk Investasi"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com