Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 14 Sep 2019 19:15 WIB

Kementan Jadikan Hortikultura Prioritas Ekspor

Nurcholis Maarif - detikFinance
Foto: Kementan Foto: Kementan
Jakarta - Nilai Tukar Petani (NTP) komoditas hortikultura berada di posisi paling tinggi. Untuk itu produknya dijadikan prioritas untuk percepatan ekspor. NTP komoditas hortikultura berada di atas 100% dan nilai PDB-nya berada di urutan kedua setelah perkebunan.

"Saat ini ekspor dan investasi di bidang hortikultura menjadi prioritas. Berbicara defisit neraca perekonomian Indonesia solusinya adalah investasi atau melalui eskpor. Hal paling mendasar untuk dilakukan adalah melakukan mapping negara mana saja yang memiliki minat terhadap produk hortikultura Indonesia. Dengan demikian aspek hulu ke hilir harus melibatkan semua stakeholder," ujar Deputi Bidang Agribisnis Kemenko Perekonomian Yuli Sri Wiranti dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/9/2019).

Hal tersebut disampaikan Yuli dalam rapat koordinasi yang digelar Ditjen Hortikultura guna menggali hambatan dalam investasi dan ekspor pertanian. Rapat koordinasi ini dihadiri oleh Deputi Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Deputi Bidang Pelayanan Penaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal serta 200 pelaku usaha.



Yuli menyatakan tanggung jawab ini tidak hanya berada di bawah Kementerian Pertanian atau Kemenko Perekonomian saja. Meskipun demikian pihaknya akan mengkoordinasikan 10 kementerian teknis guna sama-sama membuat program yang sama dalam hal mendorong ekspor.

"Dengan adanya grand design yang sedang digarap Kementerian Pertanian, perlu digarap mana komoditas yang masuk sektor lokal atau pasar ekspor. Petani akan dikoordinir, tidak lagi menggarap sendiri komoditas ekspornya karena itu akan menyulitkan. Bicara ekspor maka berbicara efisiensi skala besar. Arahan Pak Presiden sudah jelas, yakni mendorong ekspor. Ini tentunya semua bersama-sama akan bergandengan tangan mencari solusi terkait," tambah Yuli.

Menurut Yuli, beberapa hal yang paling dikeluhkan pelaku usaha yaitu terkait besarnya biaya transportasi, terutama bea kargo. Permasalahan lainnya ialah fungsi lahan di mana para petani Indonesia umumnya masih banyak yang belum memiliki lahan sendiri.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Yasid Taufik, pihaknya sudah menyiapkan sistem dan fasilitas yuang mendorong pengembangan iklim investasi yang baik. Mulai dari sistem perizinan terpadu melalui Online Single Submission (OSS), pengembangan investasi terintegrasi, dan pengembangan pendidikan atau pelatihan vokasi investasi.

Sedangkan menurut Direktorat Deregulasi Penanaman Modal BKPM Ricky Kusmayadi, menyatakan bahwa produk hortikultura secara kualitas sudah baik. Ricky mengingatkan Kementerian Pertanian perlu membuat road map arah pengembangan hortikultura.



Contohnya buah-buahan yang masing-masing komoditas perlu membuat klaster-klaster tertentu secara seragam sehingga dapat diketahui hitungan biaya transportasinya.

"Untuk masalah investasi, kami akan duduk bareng-bareng dengan Kementerian Pertanian, Kemenko, dan kementerian terkait untuk mereview besaran minimum investasi," ujar Ricky.

Adapun menurut Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto, mengharapkan hasil koordinasi ini mampu mengidentifikasi permasalahan investasi hortikultura.

"Target Grand Design Hortikultura 2020-2024 adalah pengembangan buah dan sayuran dalam skala luasan besar. Dalam satu kawasan akan lahir satu jenis varietas seragam, One Village, One Variety. Dengan demikian dilakukan pengawalan benih, OPT dan kawasan yang melibatkan Bupati dan Pemda setempat," jelas Anton.

Simak Video " Petisi Ragunan, Kementan Cabut Gugatan ke Yeka Hendra Fatika "
[Gambas:Video 20detik]
(ujm/ujm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com