Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 18 Sep 2019 13:54 WIB

RI Bakal Jualan Kelapa Sawit di Ajang Trade Expo 2019

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Agus Setyadi/detikcom Foto: Agus Setyadi/detikcom
Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menggelar Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 di ICE BSD City, Tangerang pada tanggal 16-20 Oktober 2019. Dalam pameran dagang tersebut, kelapa sawit juga akan mejeng dan menjadi salah satu produk yang digenjot promosinya agar dapat menjaring buyers mancanegara.

Direktur Utama BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) Dono Bustami mengatakan, kelapa sawit menjadi produk yang juga dijagokan di TEI 2019 ini karena kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia cukup besar.

"BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) sebagai salah satu instrumen pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sawit menjadi komiditas strategis nasional, di mana kontribusinya mencapai Rp 240 triliun dari komoditas ekspor," papar Dono dalam Press Conference TEI 2019, di The Westin Hotel, Jakarta, Rabu (18/9/2019).


Meski begitu, Doni mengakui adanya tekanan dari berbagai macam aspek maupun negara terhadap kelapa sawit Indonesia, seperti black campaign sawit di Uni Eropa, kasus karhutla yang disinyalir pelakunya merupakan perusahaan sawit.

"Sebagaimana kita ketahui sekarang sawit diserang dimana mana, tentunya kami meminta Kementerian Luar Negeri, Kemendag, dan lain-lain membantu kita," terang dia.

Selain itu, ia juga membeberkan potensi ekspor sawit ke mancanegara masih cukup besar.

"Beberapa negara tujuan, pasar tradisional kita itu India, estimasi tahun ini ekspor sawit 9,7 juta ton. Uni Eropa terdiri dari 27 negara, estimasi 7,7 juta ton. China kami targetkan 6,6 juta ton. Pakistan 3 juta ton, dan Nigeria 2,5 juta ton," papar dia.

Bahkan, menurutnya potensi ekspor sawit ke China akan semakin besar, mengingat kondisi China yang ada di tengah perang dagang melawan Amerika Serikat (AS). Pasalnya, 40% konsumsi minyak nabati China berbahan dasar soybean yang diimpor dari AS. Karena perang dagang ini, kata Dono, China menghentikan impor soybean dari AS.

"Target di China kami kejar, konsumsi minyak nabati dia itu 40% dipenuhi oleh soybean oil, sawit baru 20%. Ini kami harapkan dengan adanya perang dagang AS-China mereka menghentikan impor soybean, kami harapkan konsumsi sawit naik jadi 30%," bebernya.

Dono juga mengatakan, malam ini pihaknya bersama Kemendag akan mempromosikan sawit ke China.

"Bahkan malam ini kami diajak Kemendag menuju China untuk mempromsikan sawit," ucap Dono.


Di TEI 2019 sendiri, BPDPKS juga menyediakan booth khusus yang beroperasi penuh untuk mempromosikan sawit dan memaparkan manfaat-manfaat sawit.

Menurutnya, sawit tak lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

"Tahu tidak kalau sawit itu ada di keseharian dari pagi sampai malam? Mulai sikat gigi, makan, buat wanita pakai kosmetik. Jadi banyak sekali manfaat sawit itu," tandasnya.

Simak Video "Tak Penuhi Standar, Thailand Kembalikan 25 Kontainer Kelapa RI "
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com